Saturday, February 09, 2008

WARGA DIMINTA BELANJA PAKAI TAS KAIN

KRISIS SAMPAH PLASTIK
detikBandung
, 04/02/2008, Pratiwi Ester Novita Manik

Foto: www.midamericanenergy.com

Anggota DPKLTS Sobirin, mengemukakan data sampah Bandung yang mencengangkan. "Per hari kota Bandung menghasilkan 6.000 m3 sampah. Berat total sampah setara seribu ekor gajah, plastiknya bisa menutupi 50 lapangan bola," ujar Sobirin.



detikBandung - "We can save our nature, even when we're shopping". Tagline inilah yang diangkat oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB untuk mengadakan aksi Anti Plastic Bag Campaign (APBC). Dalam kampanye anti plastik ini, masyarakat dianjurkan untuk membawa tas khusus setiap berbelanja. Sehingga penggunaan kresek tidak lagi diperlukan untuk mengurangi sampah kantong plastik.

Ketua Panitia APBC, Cinta Azwiendasari, mengemukakan bahwa aksi ini baru awal dari target jangka panjang. "Mungkin ini baru langkah awal saja. Jadi meski mungkin belum ada hasil dalam jangka pendek, kita harapkan dari langkah awal ini dalam 5 tahun mendatang sudah tidak ada lagi sampah kantong plastik," ujar Cinta dalam konferensi pers Anti Plastic Bag Campaign (APBC), Kampus ITB Jl. Ganesha, Senin (4/2/2008).

Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Supardiyono Sobirin, mengemukakan data statistik sampah Bandung yang mencengangkan. "Per hari kota Bandung menghasilkan 6.000 m3 sampah. Sebanyak 65 persennya merupakan organik, sisanya non organik. Sebanyak 5 persen dari sampah non organik itu merupakan sampah kantong plastik. Berat total sampahnya setara seribu ekor gajah dan plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak bola," ujar Sobirin.

Pernyataan itu diperkuat Dosen Program Studi Teknik Lingkungan ITB, M. Chairul. Menilik dari kejadian longsor di Leuwi Gajah tahun 2005, sampah yang longsor didominasi oleh sampah plastik. "Dari sisa longsor, itu isinya didominasi oleh sampah plastik. Bukti nyata bahwa sampah yang sejak 30 tahun sudah didominasi oleh sampah plastik, khususnya kantong plastik," ujar Chairul.

Aksi ini sangat disambut baik tidak hanya dari kalangan mahasiswa dan pakar. Kalangan public figure juga menyatakan dukungannya, seperti penulis sekaligus penyanyi Dewi Lestari. "Kehadiran saya di sini juga untuk menyatakan dukungan saya pada aksi ini. Karena menurut saya masalah lingkungan memang sudah sangat urgent," ungkap Dewi yang berpakaian serba abu. (twi / ern)

Read More..

Friday, February 08, 2008

SELAMATKAN BUMI DARI PLASTIK.......

KOMPAS, 08-02-2008, KOMPAS.com, 05-02-2008,Yulvianus Harjono
Foto: Eric Madeya, www.treasure-images.com, uncommonmagic.wordpress.com

Keprihatinan Sobirin sangatlah beralasan. Menurut dia, di Indonesia, tidak lebih dari 10 persen warga yang peduli lingkungan. Apalagi, peduli terhadap dampak negatif sampah plastik. Meski demikian, ia optimis, melalui edukasi, rembug warga, kampanye, masyarakat lambat laun akan tergugah. Ini tidak lepas dari pentingnya peran pemerintah. “Wali Kota Bandung misalnya, perlu mendukung lewat kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di supermarket,” ungkapnya.



Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat! Di Bandung sendiri, volume sampah plastik per harinya bisa mencapai 700 meter kubik. Bisa menutupi 50 lapangan sepakbola sekaligus!


Yang jadi persoalan, dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya. Di alam, sampah plastik berbahan konvensional dari polimer sintetik tidak mudah terurai oleh organisme. Dibutuhkan waktu 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna. Selang waktu yang sangat lama. Akibatnya, di banyak tempat, plastik menjadi sumber masalah. Menyumbat saluran air, drainase, sungai, sehingga mengakibatkan banjir, bahkan yang terparah merusak turbin listrik di waduk.


Dampak negatif kantong plastik atau “tas kresek” terhadap kesehatan tidak kalah mengerikan. Berdasarkan penelitian I Made Arcana, dosen kimia Institut Teknologi Bandung, zat pewarna hitam yang umumnya ada di kantong plastik berbahaya bagi kesehatan. Zat ini kalau terkenas panas dapat terdegradasi dan mengeluarkan zat yang menjadi salah satu pemicu kanker. Maka, dianjurkan tidak menaruh gorengan atau makanan panas lainnya langsung di kantong plastik.


Lantas, apa solusinya mengatasi persoalan kantong plastik? Yang pasti, jangan pernah mencoba membakarnya. Jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Seperti diungkapkan angggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPLKTS) Sobirin, pengolahan sampah menjadi solusi terbaik. Jika rumah tangga atau komunitas terkecil di lingkungan belum bisa mengolahnya, perlu konsep daur ulang, maka pemilahan menjadi langkah kecil terbaik.
”Jika memang belum bisa, apa ya, terpaksa gali kembali kearifan lokal semacam penggunaan pincuk (daun pisang)?", ucapnya.

Dilarang di China dan Australia


Keprihatinan Sobirin sangatlah beralasan. Menurut dia, di Indonesia, tidak lebih dari 10 persen warga yang peduli lingkungan. Apalagi, peduli terhadap dampak negatif sampah plastik. Meski demikian, ia optimis, melalui edukasi, sosialisasi, rembug warga, dan kampanye, masyarakat lambat laun akan tergugah. Ini tidak terlepas dari pentingnya peranan pemerintah.

“Wali Kota Bandung misalnya, perlu mendukung lewat kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di supermarket,” ungkapnya.

Di negara maju, kampanye penggunaan kantung plastik mendapat dukungan dari negara. Salah satunya, China. Mulai Juni 2008 ini, seluruh supermarket dan toko-toko di Cina dilarang memberikan kantung plastik gratis kepada konsumen. Pembeli dianjurkan memakai keranjang sebagai pengganti. Dan, hebatnya, sinergi dengan hal itu, berbagai industri polimer di China gencar mengembangkan plastik biodegradable (dapat terurai).

Banyak jenis polylaktida (plastik berbahan dasar selulosa) dikembangkan. Salah satunya yaitu “SmartPlast Bag” yang berlogo ramah lingkungan. Plastik berpenampilan layaknya keresek normal berwarna putih ini terbuat dari tajin jagung. Di alam, plastik ini dapat terurai hanya dalam waktu setengah tahun tanpa dampak negatif apa pun. Langkah ini diikuti di Australia.


Lantas, bagaimana dengan Indonesia, khususnya Kota Bandung? Terlalu na’if jika mengharapkan hal yang sama dengan Australia dan China. Namun, sinyalemen positif mulai ditunjukkan sejumlah pelaku usaha di Bandung. Di Carrefour, saat ini disediakan tas belanja khusus pengganti kresek. Harganya Rp 10.000 per kantong. Kalau rusak, bisa ditukarkan.

Terlepas dari upaya itu, seperti diungkapkan novelis Dewi Lestari, semuanya akan berpulang kepada individu manusia. Kesadaran diri-lah yang menentukan. Lingkungan, satu-satunya aspek di dunia yang bisa menyatukan berbagai latarbelakang manusia dan negara. Mari bersatu menyelamatkan “rumah” kita. Yulvianus Harjono

Read More..

Thursday, February 07, 2008

MENJELANG "ANTI PLASTIC BAG CAMPAIGN" HMTL ITB

ITB NEWS PORTAL, 05-02-2008, adistidiniindreswari
Gambar: Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB


Menurut Sobirin, lebih dari 90% warga kota Bandung tidak peduli pada sampahnya. “Sampah kantong plastik di kota Bandung saja seharinya bisa menutupi 50 lapangan bola, dan
plastik ini membutuhkan waktu sekitar 500 tahun untuk terdekomposisi secara sempurna” katanya.



BANDUNG, itb.ac.id – Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB akan mengadakan serangkaian acara yang dirangkum dalam tema “Anti Plastic Bag Campaign”. Pada konferensi pers yang digelar pada 4 Februari 2008 di Campus Center ITB, hadir sebagai pembicara adalah Sobirin dari DPKLTS (Dewan Pemerhati Lingkungan dan Tatar Sunda), Moch. Chaerul (dosen Teknik Lingkungan ITB), Dewi Lestari (penyanyi, penulis), dan Cinta Azwiendasari (ketua panitia "Anti Plastic Bag Campaign").

Menurut Sobirin, lebih dari 90% warga kota Bandung tidak peduli pada sampahnya. Salah satu jenis sampah adalah kantong plastik bekas yang membutuhkan waktu sekitar 500 tahun untuk terdekomposisi secara sempurna. “Sampah kantong plastik di kota Bandung saja seharinya bisa menutupi 50 lapangan bola,” katanya.

Chaerul lebih jauh mengungkapkan, pembangunan tidak akan berjalan kalau tidak ada polusi, tapi sebagai orang bijak, sudah seharusnya polusi itu diminimalisasi. Salah satu cara yang dianggap efektif adalah 3R (reduce, reuse, recycle). Yang paling utama adalah ’reduce’, yaitu mereduksi sampah sebelum timbul.

"Anti Plastic Bag Campaign" merupakan salah satu wujud tindakan nyata kepedulian mahasiswa dalam upaya menjaga lingkungan. Target dari kampanye ini adalah menciptakan suatu tren di kalangan anak muda untuk membawa tas sendiri saat berbelanja sebagai pengganti kantong plastik sehingga bisa mereduksi sampah. Sasaran kampanye ini memang anak muda, yaitu dalam rentang usia 15–25 tahun.

Ikon kampanye ini adalah Dewi Lestari, seorang figur publik yang seringkali menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan, salah satunya dengan membuat tulisan mengenai plastik di blognya. “Masalah lingkungan adalah masalah yang paling tidak mengenal ras, gender, dan latar belakang sosial.” katanya. “Bumi kita kan cuma satu.” Menurutnya, saat ini sudah banyak orang yang peduli terhadap lingkungan, tapi bingung mesti mulai dari mana. Mereka menunggu tangan besar. Padahal menurutnya, “Tangan–tangan kecil pun bisa mempunyai peran.”

"Anti Plastic Bag Campaign" akan diadakan pada 5–6 Februari 2008 pukul 16.00–18.00 WIB di kampus ITB (kampanye untuk warga ITB) dan 9 Februari 2008 pukul 10.00 WIB–selesai di sekitar Jl. Ganesha–Ir. H. Juanda (kampanye untuk masyarakat Bandung). Acara ini juga didukung oleh LSM–LSM yang bergerak di bidang lingkungan dan dimeriahkan oleh Dewi Lestari, D’Cinnamons, Yuki PAS Band, dan lain–lain.

Acara kampanye ini sendiri terdiri dari Lomba Desain Tas, 1000 Puisi Sampah Anak Indonesia, Wahana Anti Plastik, dan serangkaian ’roadshow’ pada massa ITB dan masyarakat Bandung.

Read More..

Wednesday, February 06, 2008

SATU JUTA SAMPAH KANTONG PLASTIK PER MENIT

Jurnal Nasional, 04-02-2008, Ant
Foto: http://globalplasticrecyclers.com/ Mountains of Plastic Waste

Sementara itu beberapa tokoh peduli lingkungan ikut mendukung acara ini seperti Sobirin (DPKLTS), Dewi Lestari atau Dewi RSD. Menurut Sobirin, gerakan anti kantong plastik harus dilakukan menyusul tingginya penggunaan kantong plastik tanpa ada solusi pengolahan sampahnya.



Bandung, Senin, 04 Feb 2008 16:16:33 WIB
Data terakhir menyebutkan, jumlah sampah kantong plastik di seluruh dunia saat ini mencapai 500 juta hingga satu milyar kantong plastik. Artinya, warga dunia menghasilkan satu juta sampah kantong plastik setiap menit.

Hal itu diungkapkan kata Ketua Panitia "Anti Plastic Bag Campaign 2008” atau Kampanye Anti Kantong Plastik, Cinta Azwirdatari. Kampanye Anti Kantong Plastik adalah kegiatan yang digelar Fakultas Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan kantong plastik di masyarakat.

Kegiatan kampanye yang digelar 5-9 Februari 2008 itu selain melibatkan para mahasiswa ITB, juga menyertakan berbagai elemen masyarakat, seperti lembada swadaya masyarakat. “Reduksi kantong plstik menjadi fokusnya karena dianggap sebagai salah satu bentuk kepedulian yang paling sederhana dan aplikatif di masyarakat," kata Cinta di Bandung, Senin (4/2).

Menurutnya, untuk terdekomposisi secara sempurna, plastik membutuhkan waktu sekitar 500 tahun. Dalam kampanye anti kantong sampah itu, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB akan menggelar rangkaian acara untuk mengedukasi seluruh unsur masyarakat, tentang bahaya penggunaan kantong plastik secara berlebihan.

Sasaran kampanye anti kantong plastik itu, kata dia, para kawula muda usia 16-25 tahun disamping masyarakat umum. "Diharapkan kampanye anti kantong plastik ini akan menciptakan trend kesadaran bersikap peduli lingkungan di seluruh Indonesia," kata Cinta.

Sementara itu beberapa tokoh peduli lingkungan ikut mendukung acara itu seperti Sobirin dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) serta Dewi Lestari atau Dewi RSD. Menurut Sobirin, gerakan anti kantong plastik itu harus dilakukan menyusul tingginya angka penggunaan kantong plastik di masyarakat tanpa ada solusi pengolahan sampahnya. (Ant)

Read More..

PLASTIK BAKAR SEBABKAN KANKER

KOMPAS.com, 4 Februari 2008, JON
Foto: Marian Holness, http://zerowastechallenge.blogspot.com/


Sampah Kota Bandung tiap harinya 6.000-7.000 meter kubik, seberat 1.000 ekor gajah, dan lembaran plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak bola. Plastik ini sulit diurai oleh alam, menghambat drainase dan mengakibatkan banjir, ujar angggota DPKLTS Sobirin, Senin (4/2).




BANDUNG - Meski manfaatnya sangatlah besar, kantung plastik ternyata sangat membahayakan lingkungan. Residu atau limbahnya bahkan dapat mengancam kesehatan. Masyarakat perlu mengurangi penggunaan kantung plastik atau lebih baik mengolahnya.

Sampah di Kota Bandung tiap harinya 6.000-7.000 meter kubik. Setara dengan berat 1.000 ekor gajah. Dari situ, lembaran plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak-bola. Padahal, plastik ini sulit diurai oleh alam. Menghambat drainase dan mengakibatkan banjir, ujar angggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda Sobirin, Senin (4/2).


Sobirin menyampaikan hal itu dalam jumpa pers Kegiatan Gerakan Antikantung Plastik yang digagas Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Turut hadir novelis Dewi Lestari, akademisi Muhammad Chairul, dan pihak panitia. Acara ini akan digelar Selasa (5/2) hingga Sabtu (9/2) di kampus ITB dan sejumlah titik di Kota Bandung.


Muhammad Chairul, dosen Teknik Lingkungan ITB mengatakan, sampah plastik di Bandung memiliki porsi sekitar 10 persen dari total volume sampah (7.000 m3). Dari jumlah itu, sangat sedikit yang didaur ulang. Paling-paling di TPA Sarimukti. Lainnya dibiarkan begitu saja, ucapnya.


Di Indonesia, plastik mayoritas masih terbuat dari bahan polimer kimia yang tidak dapat diurai mikroorganisme. Di negara lain, misalnya China, lazim digunakan bahan lain yang lebih ramah lingkungan dan dapat didekomposisi, yaitu polylaktida berbahan dasar selulosa macam bakteri, kitosan, kitin, dan tepung tumbuhan. Bersama suatu lembaga, Sobirin tengah meneliti plastik dari bahan kulit singkong.

Menyebabkan kanker


Menurut Chairul, plastik tidak berbahaya selama itu belum berupa limbah. Jika itu sudah berupa limbah, apalagi dibakar, polutannya dapat mengancam kesehatan. Pembakaran plastik yang tidak sempurna, di bawah 800 derajat celcius, akan membentuk dioksin. Senyawa inilah yang berbahaya, ujarnya. Berdasarkan penelitian, senyawa dioksin dapat menimbulkan penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Atas dasar persoalan itu, ungkap Ketua Panitia Kampanye Antikantung Plastik Cinta Azwiendasari, kampanye tersebut penting dilakukan. Masyarakat perlu disadarkan bahayanya kantung plastik bagi lingkungan hidup. Segmen kegiatan ini sebetulnya lebih kepada segmen usia 15-25 tahun. Anak muda dan remaja. Kami berharap gerakan ini bisa menjadi tren. Sehingga efektif hasilnya, ujarnya.

Mewakili kaum selebritis, Dewi Lestari menekankan pentingnya kesadaran moral individu dan keluarga untuk mendukung kampanye lingkungan macam ini. Perubahan kecil dari diri sendiri atau keluarga harus mulai dibangun. Mengubah kebiasaan adalah kuncinya. Seperti orang diet, awalnya memang tidak mudah menahan diri, ucapnya.


Di rumahnya, Dewi sudah memberlakukan pemilahan sampah antara organik dan nonorganik. Sampah kertas dan plastik dikumpulkan dan diberi ke pemulung. Sementara, sampah organik dijadikan kompos. Lingkungan hidup, ungkapnya, hendaknya menjadi perhatian lebih. Khususnya, pemerintah. Sebab, lingkungan hidup-lah satu-satunya hal di dunia yang tidak mengenal persoalan gender, agama, suku, apalagi politik.

Agar menjadi kegiatan yang populer, Kampanye Antikantung Plastik ini menurut rencana akan dimeriahkan pula oleh kehadiran artis lainnya d’Cinnamons dan Yuki Pas Band serta aktivis lingkungan hidup lainnya. Ada pula lomba desain tas anti-plastik, pembacaan 1.000 puisi sampah, dan roadshow.(jon)

Read More..

MAHASISWA ITB KAMPANYE ANTIKANTONG PLASTIK

TEMPO-Interaktif, 04-02-2008, Rana Akbari Fitriawan
Foto: Orlando Claffey/ Daily News/ www.metrowestdailynews.com



Masalahnya, kata Sobirin, meski jumlahnya kecil, sampah plastik tidak mudah mengurai. “Kalau dibuang sembarangan bisa menyumbat saluran drainase, dibakar bisa menimbulkan racun dioksin,” katanya.




TEMPO Interaktif, Bandung: Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung menggelar kampanye antikantong plastik (anti plastic bag campaign) mulai Selasa (5/2). “Kami ingin membuat satu tren terutama di kalangan anak muda,” ujar Cinta Azwiendasari, ketua panitia kegiatan ini di Bandung, Senin (4/2).

Kampanye ini diisi serangkaian acara untuk menghimpun dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya penggunaan kantong plastik secara berlebihan. “Antara lain lomba desain tas antiplastik, seribu puisi sampah anak Indonesia, serta kampanye mengelilingi Jalan Ganesa dan Dago dengan berjalan kaki,” kata Cinta.

Cinta menambahkan, setiap tahun diperkirakan 500 juta hingga satu miliar kantong plastik dikonsumsi di seluruh dunia, atau hampir mencapai satu juta plastik per menit. Padahal, “Untuk terdekomposisi secara sempurna, plastik butuh waktu sekitar lima ratus tahun,” katanya.
Untuk mendukung kampanye yang berakhir Sabtu mendatang, kata Cinta, pihaknya melibatkan sejumlah ahli dan aktivis lingkungan dari berbagai organisasi, seperti WWF dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). “Ada juga sejumlah artis seperti Dewi Lestari dan d’Cinnamons,” ujarnya.

Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda Sobirin mengatakan volume sampah plastik di Kota Bandung diperkirakan berjumlah 5 persen dari total sampah yang dihasilkan Kota Bandung setiap harinya. “Total sampah Bandung sekitar lima sampai tujuh ribu meter kubik per hari,” katanya.

Masalahnya, kata Sobirin, meski jumlahnya kecil, sampah plastik tidak mudah mengurai. “Kalau dibuang sembarangan bisa menyumbat saluran drainase, dibakar bisa menimbulkan racun dioksin,” katanya.

Untuk menerapkan pola edukasi antiplastik ini, kata dia, masyarakat Kota Bandung dapat memulai dengan membangun kepercayaan akan bahaya plastik dan kesadaran untuk tidak memakainya. “Lalu kita uraikan keuntungan dan kerugian jika tidak memakai plastik,” katanya.

Setelah itu, lanjut dia, sebelum menerapkan budaya antiplastik, masyarakat dapat membuat kontrak moral untuk tidak memakainya lagi. “Setelah itu kita bisa meniru negara lain untuk melakukan gerakan antiplastik sampai ke sumbernya,” katanya. (Rana Akbari Fitriawan)

Read More..

PLTSa BELUM BEGITU MENDESAK

KEBERHASILAN PENGELOLAAN SAMPAH DARI RUMAH TANGGA
Pikiran Rakyat, 05 Februari 2008, A-155
Foto: www.tampagov.net/ Mackay Bay - Pabrik Sampah Jadi Listrik

Anggota DPKLTS Sobirin mengungkapkan itu di sela-sela jumpa pers "Gerakan Anti Tas Plastik" yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) di kampus ITB, Jln. Ganeca Bandung, Senin (4/2).



BANDUNG, (PR).-Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Bandung dinilai belum begitu mendesak. Hal itu disebabkan PLTSa belum ada uji model fisik-nya, sehingga jika gagal masalah yang ditimbulkan akan semakin parah. Keberhasilan pengelolaan dan penanganan masalah sampah sangat ditentukan rumah tangga, sementara di Bandung lebih dari 90% warganya tidak peduli terhadap sampah.

Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin Supardiyono mengungkapkan itu di sela-sela jumpa pers "Gerakan Anti Tas Plastik" yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung di kampus ITB, Jln. Ganeca Bandung, Senin (4/2). "Pengelolaan sampah melalui PLTSa tidak semudah yang dibayangkan," ujarnya.

Menurut dia, seharusnya Pemkot Bandung mencoba PLTSa ini bukan dalam skala penuh untuk mengetahui keuntungan dan kerugian yang disebabkan PLTSa. "Lebih baik warga diberi kesempatan, misalnya setahun, untuk bisa melakukan 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle sampah yang mereka hasilkan. Jika warga gagal, baru memikirkan pembangunan PLTSa. Semua kan masih dalam bentuk desain," kata Sobirin.

Sobirin yakin bahwa kunci kesuksesan penanggulangan masalah sampah ada di setiap rumah tangga itu sendiri. Seandainya masyarakat bisa menerapkan 3R, PLTSa tidak diperlukan lagi. Ia mencontohkan dengan memperpanjang usia penggunaan sampah, terutama plastik. Dikatakan, untuk mewujudkan kesadaran masyarakat, harus ada political will pemerintah. Pemerintah, harus tegas memberi sanksi kepada warga yang tak peduli sampah.

Berat gajah

Sobirin menjelaskan, sampah di Kota Bandung setiap hari mencapai berat 1.000 ekor gajah, sedangkan lembaran sampah plastik bisa menutupi 50 lapangan sepak bola. Padahal, sampah plastik menjadi sumber bencana lingkungan karena sukar terurai. "Lima persennya merupakan sampah plastik yang susah terurai," ucapnya.

Banjir yang terjadi, ungkap Sobirin, akibat menumpuknya sampah plastik. Untuk mengurangi sampah plastik diperlukan keberanian pemerintah, karena yang dihadapi adalah produsen plastik. "Berani tidak kita meniru Cina yang menghentikan produksi plastiknya walaupun menyumbang banyak untuk negara?" katanya.

Sobirin menegaskan, diperlukan langkah nyata, setidaknya dari kaum muda, misalnya mengirimkan surat resmi kepada pemerintah untuk berani melaksanakan politik anti tas plastik. "Bila langkah formal tidak berhasil, sedangkan ancaman bencana lingkungan meningkat, upayakan melakukan class action demi keselamatan kita," tuturnya.

Sementara itu, dosen Teknik Lingkungan ITB Muhammad Chaerul mengatakan, sebenarnya sampah plastik bisa dijadikan bahan bakar pembantu selain minyak. Hanya, pengelolaannya harus hati-hati karena jika plastik tidak dibakar dengan sempurna malah menghasilkan racun dioksin yang lebih berbahaya. "Pembakaran harus di atas 800 derajat dan lebih dari 2 detik. Jika tidak malah menghasilkan dioksin yang lebih berbahaya," ujar Chaerul.

Senada dengan Sobirin, Chaerul pun berpendapat masyarakatlah yang memegang kunci berhasil atau tidaknya pengelolaan sampah. (A-155)***

Read More..

Monday, February 04, 2008

GERAKAN ANTI TAS PLASTIK/ KRESEK

HMTL ITB, 04 Februari 2008
Foto: Sobirin 2003, Sampah Plastik Gasibu Bandung
Oleh: SOBIRIN
Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB menyelenggarakan kampanye anti tas plastik/ kresek tanggal 4 hingga 9 Februari 2009. Hari pertama berupa jumpa pers, menghadirkan Sobirin (DPKLTS), Dewi Lestari (Novelis), Cinta (Panitia), Chaerul (Dosen Teknik Lingkungan), dengan moderator Christy (Mahasiswa Teknik Lingkungan). Berikut masukan dari Sobirin (DPKLTS).



GERAKAN ANTI TAS PLASTIK/ KRESEK
Oleh: SOBIRIN (Anggota DPKLTS dan Bandung Spirit)



ISSUE
Tas Plastik/Kresek Sumber Bencana Lingkungan


KONDISI SAAT INI

Sampah Kota Bandung tiap harinya setara dengan berat 1.000 ekor gajah, lembaran sampah plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak bola, sampah kertasnya setara dengan bubur pulp dari 500 batang pohon.

Lebih dari 90% warga Kota Bandung tidak peduli terhadap sampahnya. Mengharap diangkut oleh Pemerintah Kota, dibuang sembarangan, ditimbun ke dalam tanah, atau dibakar.

Salah satu jenis sampah adalah tas plastik/kresek yang sukar mengurai, banyak sekali menumpuk di mana-mana, memenuhi alur sungai, dan menyumbat saluran drainase.


ANALISIS

Tas plastik/kresek memang sangat fungsional, merupakan produk massal, mudah didapat, boleh dikata dapat diperoleh tanpa harus membeli. Tas plastik/kresek ini telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari tiap orang. Karena sangat mudah mendapatkannya, maka habis dipakai langsung dibuang, menjadi sampah.


Sampah tas plastik/kresek memerlukan waktu yang lama, bisa ratusan tahun, untuk dapat mengurai atau hancur. Sisa-sisa makanan yang menempel di tas plastik/kresek akan membusuk mengundang lalat dan mikro organisme menjadi penyakit. Tumpukan sampah tas plastik/kresek yang menyumbat alur sungai dan saluran drainase akan menyebabkan banjir bila datang musim hujan.

Bila tas plastik/kresek ini dibiarkan terus beredar, maka di masa mendatang dapat berdampak menimbulkan bencana lingkungan yang lebih besar lagi.


ALTERNATIF PENANGANAN
Kita mulai dari diri sendiri dan sekarang juga untuk tidak menggunakan tas plastik/kresek dalam kehidupan sehari-hari.

Melawan arus “membludaknya” tas plastik/kresek ini tidak cukup dengan “mulai dari diri sendiri”, menggunakan tas kain blacu atau kantong kertas. Tidak cukup hanya dengan gerakan moral, tidak cukup dengan seminar dan pasang spanduk. Gerakan anti tas plastik/kresek ini harus merupakan sinergi antara:
Pendidikan ”anti tas plastik/kresek” bagi seluruh warga.

Budaya ”anti tas plastik/kresek” dalam kehidupan sehari-hari
.
Kemauan dan keberanian politik ”anti tas plastik/kresek” dari pihak pemerintah.

Dalam pendidikan ”anti tas plastik/kresek” dapat menggunakan konsep TAIDAC, yaitu:
Trust: bangun kepercayaan bahwa tas plastik/kresek adalah berbahaya
Awareness: gali kesadaran untuk tidak memakai tas plastik/kresek

Interest: uraikan keuntungan bila tidak memakai tas plastik/kresek

Decision: buat kontrak moral untuk tidak memakai tas plastik/kresek

Action: lakukan gerakan anti tas plastik/kresek, lawan sampai sumbernya
Culture: budaya tidak memakai tas plastik/kresek dalam keseharian kita.


Dalam dunia pendidikan, riset dan teknologi, perlu melakukan penelitian untuk menemukan bahan pengganti tas plastik/kresek yang mudah terurai, tidak berbahaya, dan ramah lingkungan.


Dalam budaya ”anti tas plastik/kresek” ini kita dapat menggali kearifan lokal dalam kemas-mengemas dan bungkus-membungkus makanan menggunakan daun-daun alami, menggunakan tas bukan plastik misalnya dari bahan tikar, pandan, dan sejenisnya yang ramah lingkungan.


Dalam dunia politik, kita harus mampu mendorong pemerintah untuk mau dan berani:
Menginstruksikan agar semua bisnis baik di pasar tradisional hingga pasar modern tidak menggunakan tas plastik/kresek, dan yang melanggar didenda berat secara konsekwen.
Menindak siapapun yang membuang sampah (semua jenis sampah termasuk plastik) secara sembarangan ataupun membakarnya.
Belajar dan meniru negara-negara lain yang telah menerapkan gerakan anti tas plastik/kresek, melawan kepada sumbernya, menghentikan industri, produksi dan perdagangan tas plastik/kresek (China, Amerika, Australia dan lain-lainnya).



REKOMENDASI OPERASIONAL
Membentuk organisasi kesemestaan, misalnya “DEWAN ANTI TAS PLASTIK/KRESEK” atau apapun namanya, yang memiliki landasan-landasan organisasi secara normatif, yaitu memiliki:

Aspek (kelembagaan, struktur organisasi, aturan main)
Fungsi (perencanaan, pelaksanaan, pengawasan)
Unsur (visi, misi, program, modal, ketrampilan, insentif/disinsentif)

Enam sukses gerakan anti tas plastik/kresek:

tanpa visi: tanpa arah,

tanpa misi: tersendat,
tanpa program: hanya membuang tenaga dan waktu,
tanpa modal: frustasi,
tanpa ketrampilan: lambat,
tanpa insentif/disinsentif: ragu-ragu atau setengah-setengah.

Membuat surat resmi kepada pimpinan birokrasi pemerintah dan DPR/DPRD untuk mau dan berani melaksanakan politik anti tas plastik/kresek (mulai saja dari Kota Bandung)
.

Bila langkah-langkah formal kepada pemerintah tidak berhasil, dan ancaman/ bencana lingkungan akibat sampah tas plastik/kresek semakin meningkat, upayakan untuk melakukan ”class action” demi keselamatan kota kita.



Bandung, 04 Februari 2008
SOBIRIN

sobirindpklts@yahoo.com

www.sobirin-xyz.blogspot.com [sobirin is back to nature]

www.clearwaste.blogspot.com [sampah diolah menjadi berkah]

Read More..

Wednesday, January 30, 2008

PENYELAMATAN KBU JANGAN OMONG KOSONG

DPKLTS, Parongpong, Kawasan Bandung Utara, 30 Januari 2008
Foto: Sobirin, 2008, Penandatanganan Penyelamatan KBU

Liputan: SOBIRIN
Solihin GP, sesepuh Jawa Barat, dalam pidato sambutan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Penyelamatan Kawasan Bandung Utara (KBU) minta agar Kesepakatan dan PERDA-nya jangan hanya omong kosong. Berikut pidato selengkapnya dari Solihin GP.



T
anggal 30 Januari 2008 di Parongpong Kawasan Bandung Utara (KBU), Pemprov Jawa Barat, Pemkab Bandung, Pemkab Bandung Barat, Pemkot Bandung, dan Pemkot Cimahi bersepakat untuk bersama-sama menyelamatkan KBU sebagai kawasan konservasi penyangga Cekungan Bandung. Kesepakatan ini adalah persyaratan dari Menteri Dalam Negeri agar Peraturan Daerah tentang Pengendalian Pemanfaatan Ruang KBU yang telah dibuat oleh Pemprov Jawa Barat dapat segera diimplementasikan.
Solihin GP, sesepuh Jawa Barat, dalam pidato sambutannya minta agar kesepakatan dan Perda ini jangan hanya omong kosong. Berikut pidato selengkapnya dari Solihin GP.

KESEPAKATAN PENYELAMATAN KBU
JANGAN HANYA OMONG KOSONG BELAKA



OLEH: SOLIHIN GP
KETUA DEWAN PENASIHAT DPKLTS
(DEWAN PEMERHATI KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN TATAR SUNDA)

Assalamu Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,
Sampurasun,

Berdasar gambaran citra satelit dari tahun ke tahun, Kawasan Bandung Utara atau KBU menampakkan alih fungsi lahan yang semakin parah. Kawasan lindung diubah menjadi kawasan budidaya oleh intervensi kegiatan manusia yang tidak memahami azas konservasi dan hanya berlandaskan ekonomi jangka pendek. Kalau diibaratkan penyakit, saat ini KBU menderita penyakit kangker stadium empat yang tidak lagi mampu menopang kehidupan.

Setelah sekian lama KBU dirambah terus oleh kelompok-kelompok manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak peduli lingkungan, maka sebagai pejoang lingkungan saya menyambut dengan baik dan gembira atas “Kesepakatan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Bandung Utara” yang Berita Acara-nya akan ditanda-tangani oleh Provinsi, Kabupaten dan Kota pada hari ini. Berita Acara Kesepakatan lintas wilayah ini saya anggap sebagai kemauan politik yang positif dari Provinsi, Kabupaten dan Kota untuk bersama-sama secara sadar lingkungan menyelamatkan KBU sebagai kawasan lindung dan penyangga Wilayah Cekungan Bandung.

Dengan Berita Acara Kesepakatan ini pula, saya sebagai warga Wilayah Cekungan Bandung meminta kepada aparat Provinsi, Kabupaten dan Kota untuk segera mengimplementasikan Perda yang telah disusun oleh Provinsi Jawa Barat tentang penyelamatan KBU, dan yang telah pula disetujui oleh Menteri Dalam Negeri. Inti dari Perda Provinsi Jawa Barat tentang penyelamatan KBU ini adalah: “Izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan oleh Bupati dan Walikota perlu mendapat rekomendasi dari Gubernur”.

UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan bahwa akidah penataan ruang adalah untuk: kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional. Untuk itulah ada hirarki bahwa RTRW Kabupaten dan Kota harus mengacu RTRW Provinsi, dan RTRW Provinsi harus mengacu kepada RTRW Nasional.

Otonomi Daerah Kabupaten dan Kota adalah bukan segala-galanya, karena bagaimanapun secara normatif, pemerintah Provinsi memang memiliki otoritas ikut mengendalikan kebijakan Kabupaten dan Kota yang bersifat lintas wilayah. Birokrat Provinsi Jawa Barat termasuk DPRD Jawa Barat harus tegas dan berani dalam upaya menegakkan peraturan perundangan yang berkaitan dengan keselamatan wilayah Jawa Barat termasuk KBU, karena secara “doelmatigheid” dan “rechtmatigheid” sudah benar. Konsistensi, ketegasan dan kewibawaan Gubernur adalah kunci keberhasilan penyelamatan KBU.

Berdasar aspek lingkungan hidup, harus difahami bahwa bentukan alam topografi cekungan seperti Cekungan Bandung, memiliki karakteristik lingkungan yang sangat sensitif. Sedikit saja alamnya terganggu, maka dampaknya dapat menimbulkan bencana bagi seluruh kehidupan di dalamnya, seperti banjir, longsor, kekeringan, polusi udara, dan lain sebagainya.

KBU adalah:
merupakan benteng alam dan pengendali iklim mikro untuk keberlanjutan kehidupan Cekungan Bandung, termasuk Kota Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat dan Ibu Kota Asia Afrika,
merupakan daerah tangkapan air Cekungan Bandung, sekitar 60% dari total 108 juta m3 air tanah Cekungan Bandung berasal dari KBU.

Oleh sebab itu, demi keselamatan bersama, maka Perda KBU yang telah diterbitkan harus kita kawal terus pelaksanaannya. Bagi siapapun yang merusak fungsi lindung KBU harus mendapat sanksi sesuai hukum yang berlaku. KBU selamat maka Cekungan Bandung selamat dan Kota Bandung akan bermartabat secara berkesinambungan.

Tidak hanya KBU saja, tetapi sebenarnya KBS (Kawasan Bandung Selatan) juga perlu perhatian, karena KBU dan KBS adalah di dalam satu sistem Cekungan Bandung. Bahkan untuk kepentingan RTRW yang ramah lingkungan dan berkesinambungan, serta benar-benar semata-mata untuk kepentingan seluruh wilayah Jawa Barat, maka Perda ini seharusnya dikembangkan agar berlaku untuk seluruh Jawa Barat, bukan hanya untuk KBU saja.

Mari kita kawal Perda KBU agar dapat dipakai sebagai instrumen penyelamatan lingkungan Cekungan Bandung pada umumnya, dan Kota Bandung pada khususnya. Jangan sampai Perda KBU hanya menjadi “macan kertas” yang tidak digugu dan tidak ditiru!

Cekungan Bandung sebagai sebuah wilayah yang berbentuk cekungan yang sensitif harus dikelola secara terpadu, sinergi antara Provinsi, Kabupaten dan Kota terkait dengan konsep:
Satu wilayah cekungan Bandung: One Bandung Basin
Satu Pandangan Menyeluruh:One Comprehensive View
Satu Visi Bersama: One Shared Vision
Satu Perencanaan Paripurna: One Overall Planning
Satu Pengelolaan Terpadu: One Integrated Management

Ingat Kota Bandung pernah mengalami banjir bandang ketika awal perkebunan-perkebunan dibuka yaitu pada awal abad ke 20. Kemudian menyusul banjir bandang berikutnya pada tahun 1917 dan 1937.
Paling mencekam adalah banjir bandang pada tahun 1946 ketika rakyat sedang mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang ingin menjajah kembali negara kita. Bahkan di akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008 di kawasan Cidadap di bagian utara Kota Bandung pun tersapu oleh banjir bandang akibat meluapnya sungai Cipaganti.
Ingat pula bahwa dataran rendah di tengah di Cekungan Bandung pernah terendam banjir lebih dari 4.000 hektar pada tahun 1984, 1986, 1988, 1994, 1995, 1996, 1998, 2001.

Yakini bahwa dalam masalah penyelamatan KBU ini, seluruh rakyat Jawa Barat akan mendukung sepenuhnya!
Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) akan konsisten berada di tengah rakyat berjuang untuk menyelamatkan lingkungan dan kesajahteraan rakyat. DPKLTS bersama rakyat akan selalu mengkritisi dan mengkoreksi, bahkan akan melakukan konfrontasi kepada pemimpin yang menyelewengkan penataan ruang yang berdampak tidak pro rakyat dan tidak pro lingkungan.

Demikian yang dapat saya sampaikan,
Wassalamu Alaikum Warohmatollohi Wabarokatuh

Bandung, 30 Januari 2008

Solihin GP
Ketua Dewan Penasihat DPKLTS

Read More..

Saturday, January 26, 2008

PESTA DEMOKRASI, RAME-RAME POHON DIPAKU

Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, 26-01-2008
Foto: Sobirin 2004, Semula gambar dipaku ke pohon, lalu diikat

Oleh: SOBIRIN
Saat pesta demokrasi, PILKADA atau PILPRES, organisasi massa pengusung calon pemimpin sangat bersemangat berkampanye. Bendera dan atribut partai diikat ke tiang listrik, tiang telpon, bahkan dipakukan ke pohon pinggir jalan, tanpa mempedulikan etika lingkungan.


Lingkungan Kota Bandung menjelang PILGUB Jawa Barat 2008 juga menjadi korban pesta demokrasi. Tiang listrik, tiang telpon mulai penuh dengan bendera dan atribut organisas massa dan partai. Telah banyak keluhan warga karena mengganggu pemandangan saat berkendara di jalan.

Pohon-pohon pun mulai menjadi sasaran, dipaku untuk menegakkan bendera organisasi massa dan partai. Banyak warga yang protes dan melaporkan kepada Walikota Bandung (Dada Rosada) dan Dinas Pertamanan melalui SMS supaya bendera-bendera tersebut dicabut.

Walikota pun menanggapi positif dan dengan berang memerintahkan supaya mencabuti bendera dan atribut yang dipakukan ke pohon. Beberapa pimpinan organisasi massa dan partai mengikuti instruksi Walikota, namun ada juga yang membandel tidak mau mencabut bendera dan atributnya dari pohon.

Seharusnya pimpinan organisasi massa dan partai menginstruksikan tim lapangannya agar tidak mengganggu dan merusak lingkungan, sebab yang rugi juga organisasi massa dan partai sendiri, karena masyarakat menjadi tidak simpati yang pada giliran berikutnya tidak akan memilih calon yang diusungnya.

Pada tahun 2004 yang lalu, menjelang PILPRES, banyak juga gambar-gambar calon-calon Presiden yang dipaku ke pohon. Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) di bawah pimpinan Solihin GP lalu membuat semacam ”iklan” di koran Pikiran Rakyat dengan bunyinya sebagai berikut: JANGAN PILIH CALON PRESIDEN SIAPAPUN YANG GAMBARNYA DIPAKU KE POHON.

Bagaimanapun pohon adalah bagian kehidupan. Besoknya gambar-gambar calon yang tadinya dipaku dipohon dicabuti, dan ganti diikat dengan tali rafia. Tetapi tetap saja secara lingkungan menimbulkan pemandangan yang tidak estetis. Baru kampanye saja sudah merusak lingkungan, apalagi nanti kalau sudah jadi pejabat. Banyak contohnya!

Read More..

Monday, January 21, 2008

BERAS ORGANIK, BERAS PRO LINGKUNGAN

BULOG MENJADI EKSPORTIR BERAS ORGANIK?
DPKLTS, 09 Januari 2008, Rapat dengan BULOG.

Foto: Sobirin 2007, Sawah Organik SRI dan Sajiboen Pakar DPKLTS
Disusun oleh: SOBIRIN
BULOG menjadi exportir beras organik? Mengapa tidak? Tanggal 9 Januari 2008 tim DPKLTS dibawah pimpinan Solihin GP dan tim BULOG dibawah pimpinan Direktur Utama Mustafa Abubakar membahas potensi ini.




ISSUE:
BULOG menjadi eksportir beras organik SRI


KONDISI SAAT INI:

Pertama: Petani padi mulai banyak yang “back to basic”, yaitu menanam padi secara seksama dengan metode SRI (System of Rice Intensification), hemat air, menggunakan kompos, tanpa pupuk kimia dan tanpa pestisida kimia. Rata-rata hasil sawah organik rakyat di atas 6 ton GKG (Gabah Kering Giling)/ hektar/ panen.

Kedua: Masyarakat petani padi organik SRI telah mampu berkreasi menyiapkan kompos berikut starter Mikro Organisme Lokal (MOL) secara mandiri. Namun demikian, masih ada saja pihak yang skeptis dan meragukan kesiapan volume kompos yang dibutuhkan.

Ketiga: Sertifikasi beras organik oleh lembaga terakreditasi masih mahal.


ANALISIS:

Pertama: Setiap kegiatan pertanian diperlukan kesiapan 4 unsur, yaitu: lahan, modal, ketrampilan, pasar. Khusus pasar (termasuk ekspor), diperlukan 3 unsur, yaitu: kuantitas, kualitas, kontinuitas.

Kedua: Bahwa gagasan, pembelajaran dan penerapan menanam padi organik SRI diawali di Jawa Barat sejak tahun 2000. Lahan sawah organik SRI di Jawa Barat paling luas dibanding dengan propinsi lain dengan jumlah petani SRI terlatih yang menjadi pelaku SRI telah mencapai 6.345 orang.
Ketiga: Luas lahan pertanaman padi organik SRI di Jawa Barat yang dipersiapkan bulan Februari dan dipanen bulan April 2008 adalah 442 Ha, dengan perkiraan produksi 2.652 ton GKP (Gabah Kering Pungut), atau setara 2.000 ton GKG atau setara 1.300 ton beras organik.

Keempat: Luas lahan pertanaman padi organik SRI yang dipersiapkan bulan Juni dan dipanen bulan Agustus 2008 adalah 1.200 Ha dengan perkiraan produksi 7.956 ton GKP atau setara 6.000 ton GKG atau setara 3.900 ton beras.
Kelima: Varietas yang di tanam untuk padi organik SRI terdiri dari 2 jenis yaitu : varietas Sintanur dan Ciherang, karena jenis Sintanur beraroma dan pulen, serta banyak diminati pasar lokal Jakarta, Bandung dan sekitarnya, sedangkan varietas Ciherang selain nasinya pulen juga bobotnya lebih berat dibanding jenis lainnya.

Keenam: Dengan pengelolaan ekosistem sawah yang serasi didasari pengolahan tanah tanpa pupuk dan pestisida kimia sebagai bioreaktor yang sehat, pengelolaan air yang hemat sesuai kebutuhan, dan perlakuan yang seksama terhadap tanaman, maka jumlah produksi per panen meningkat menjadi paling tidak 6 ton GKG/ hektar. Beras-nya pun menjadi jauh lebih sehat dan berkualitas, diantaranya: rasa lebih enak, tahan lama tidak cepat basi, pulen, kandungan protein dan karbohidrat lebih tinggi, kadar gula rendah, beraroma, tidak ada residu pestisida.

Ketujuh: Sebagai perbandingan harga beras organik per kilogram di pasar Singapura mencapai 4,00 dollar Singapura (Organic Red Brown Rice), di pasar London mencapai 4,50 poundsterling (Biona Organic Basmati Brown Rice ex India), di pasar Amerika Serikat mencapai 6 dollar USA (Organic Lundberg Freshly Hulled Short Grain Brown Rice). Bahkan Amerika Serikat ini sangat menghargai produk seni bertani padi organik, misalnya jenis padi organik Mahnomen per kg yang bisa mencapai 28,50 dollar USA (Mahnomen Smokey Wild Rice, hand picked in the USA by native Americans in canoes).

Kedelapan: Manakala trend pasar global terhadap produk pertanian semakin meningkat, maka sudah selayaknya Indonesia memanfaatkan potensi pertanian organik hasil seni bertani yang tinggi untuk masuk ke pasar global, ke negara-negara “penikmat” beras organik. Padi organik Indonesia sangat berpotensi bersaing dengan padi organik dari negara-negara lain, karena ke-khas-annya yang ditanam di sekitar garis katulistiwa dengan pancaran sinar matahari yang abadi. Dalam setiap pak beras organik Indonesia akan sangat menarik bila dilengkapi dengan penjelasan:

Beras organik SRI Indonesia:
Hasil karya seni bertani dengan arif, seksama, tanpa pupuk kimia dan tanpa pestisida kimia. Ditanam di sawah tropis di sekitar garis kathulistiwa, dng pancaran sinar matahari abadi. Menghasilkan beras organik kaya akan nutrisi sehat yg dibutuhkan oleh manusia.
Indonesia SRI organic rice: The art of agriculture by wise and conscientious creation, using no chemical fertilizer and no chemical pesticide. Planted in tropical paddy field in vicinity of equator line, where sunshine is everlasting. Producing organic rice rich of healthy nutrition essential for human beings.

ALTERNATIF PENANGANAN:

Pertama: Petani organik SRI memanfaatkan waktu senggangnya untuk membuat kompos dari jerami, semak-semak, dan kotoran hewan, sehingga kompos telah siap pada saat diperlukan. Waktu senggang petani menjadi sangat berharga dengan berkreasi membuat kompos. Di setiap luasan sawah organik ini perlu di kembangkan konsep “saung kompos” atau “gubuk kompos” sebagai gudang penyimpan kompos.

Kedua: Apalagi bila seperempat dari total lahan sawah disiapkan untuk tanaman sumber biomasa, hutan lokal, tanaman pakan ternak berikut ternaknya, maka dijamin kompos akan mencukupi kebutuhan. Seperempat luasan dari total lahan sawah ini juga menjadi hunian predator yang akan mengamankan sawah dari hama-hama yang mengancam. Sisanya yang tiga perempat dari total luas lahan bisa ditanami padi organik SRI dengan seksama dan aman.

Ketiga: Diperlukan political will pemerintah, pendidikan kepada masyarakat, serta budaya untuk kembali “back to basic”, mulai dari membuat kompos hingga tata cara menanam padi organik SRI dengan seksama.

Keempat: DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) dan AOSC (Aliksa Organic SRI Consultant) akan menangani mutu proses di lapangan (on-farm), sedangkan BULOG akan memproses penggilingan dan pengepakan dengan peralatan BULOG (off-farm). Kerjasama antara DPKLTS, AOSC, BULOG merupakan team work yang bersinergi dengan sasaran petani SRI akan mendapat untung besar dan sejahtera.

Kelima: Perlu dicari proses sertifikasi yang relatif cepat, murah, dan berlaku untuk kegiatan ekspor padi organik SRI.
Keenam: Saat ini PT Golden Arrow Indonesia mencoba memasarkan untuk ekspor beras organik dengan harga Free On Board (FOB) ke Malaysia 2,50 dollar USA/kg, ke Singapura 2,30 dollar USA/kg, ke Brunei 3,00 dollar USA/kg. Perlu dihitung kembali harga ekspor ke negara-negara lain baik baik secara FOB, atau CFR (Cost and Freight), CIF (Cost Insurance and Freight), atau yang lain sesuai kesepakatan dengan negara pengimpor.

REKOMENDASI OPERASIONAL:
Pertama: Segera direview kembali hasil rapat ini, dan sebelum akhir Januari 2008 telah ada laporan tentang langkah-langkah yang telah dilakukan oleh masing-masing pihak, antara lain masalah proses di lapangan dan sertifikasi.

Kedua: Contact Person BULOG: Mohammad Ismet PhD (Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis) dan Abdul Waris Patiwiri (Direktur Pelayanan Publik).

Ketiga: Contact Person DPKLTS: Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita, AOSC: Ir. Alik Sutaryat, atau bisa melalui e-mail SOBIRIN (sobirindpklts@yahoo.com).

Notulen disusun oleh: SOBIRIN

Berdasar hasil rapat tanggal 09 Januari 2008 di Kantor BULOG Jl. Jenderal Gatot Subroto No. 49 Jakarta 12950, Indonesia.

Dari DPKLTS dan AOSC dipimpin oleh Solihin GP (Ketua Dewan Penasihat DPKLTS) dan dari BULOG dipimpin oleh Mustafa Abubakar (Direktur Utama Perum BULOG).

Read More..

Saturday, January 19, 2008

MENYOAL MANAJEMEN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT

Katong Orang NTT Pung Koran
http://www.indomedia.com/poskup/2007/12/18/edisi18/serial.htm
Foto: Sobirin 2003, Korban Bencana = Rakyat Tak Berdosa
MENYOAL MANAJEMEN BENCANA DI NTT (3)
MANAJEMEN BERBASIS MASYARAKAT
Oleh: Thomas Duran/Yos Sudarso/Raymundus Ngera
Sobirin, pemerhati lingkungan Tatar Sunda di Pikiran Rakyat (4/4/2005) menulis, manajemen bencana berbasis masyarakat sudah menjadi visi negara-negara maju di muka bumi.



Sejauh ini kita ingin mengingatkan bahwa bencana bukan proyek. Jika pola pikir kita masih pada pola lama, maka eksen kita di lapangan bisa jadi melihat bencana sebagai "berkah".

Mark up taksasi kerugian, penyaluran bantuan yang tidak tepat sasar, korupsi dana bencana dan macam-macam perilaku di lapangan adalah buah dari cara pikir yang lama.

Karena itu paradigma baru perlu dan urgen untuk dibangun. Sudah saatnya, penanganan bencana menjadi peluang memperkuat kapasitas masyarakat; apakah pengetahuannya, ekonominya dan keterampilannya. Singkatnya, kita butuh manajemen bencana berbasis masyarakat.

Kepala Biro Binsos Setda NTT, Sentis Medi ketika diajak berdiskusi tentang perlunya paradigma baru dalam penanganan bencana mengemukakan, kata kunci adalah partisipasi. Manajemen bencana harus bersifat kesemestaan, melibatkan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan pemerintah saja. Pemerintah memiliki keterbatasan-keterbatasan. Jadi semua harus mampu menjadi pelaku yang setara, semua harus berperan utama, bukan hanya berperan serta.

Sasaran implementasinya adalah masyarakat mengetahui ancaman bahaya di lingkungan masing-masing; masyarakat mampu menolong dirinya sendiri.

Konsep dasar manajemen bencana berbasis masyarakat adalah upaya meningkatkan kapasitas masyarakat sambil mengurangi kerentanannya.

Besaran bencana merupakan akumulasi berbagai ancaman bahaya dengan rangkaian kerentanan yang ada di masyarakat. Rangkaian kerentanan ini antara lain terdiri dari kemiskinan, kurangnya kewaspadaan, kondisi alam yang sensitif, ketidakberdayaan, dan berbagai tekanan dinamis lainnya.

Kerentanan satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain berbeda akar masalahnya, demikian pula ancaman bahayanya berbeda-beda jenisnya.

Pada umumnya permasalahan bencana di daerah kita menjadi rumit karena terjadi di daerah yang kondisi masyarakatnya tidak mampu alias rentan dan lokasinya pun jauh dari pusat pemerintahan dan sulit dicapai.

Oleh sebab itu, paradigma baru manajemen bencana harus dapat mengatasi permasalahan tersebut, dari tanggung jawab semata pemerintah menuju manajemen bencana berbasis masyarakat, yaitu menuju masyarakat yang mampu mandiri, mampu mengenali ancaman bahaya di lingkungannya, dan mampu menolong diri sendiri.

Sobirin, seorang pemerhati masalah kehutanan dan lingkungan Tatar Sunda dalam artikelnya yang termuat dalam Pikiran Rakyat (4/4/2005) menulis, cita-cita manajemen bencana berbasis masyarakat atau community based disaster management sudah menjadi visi dari negara-negara maju di muka bumi ini.

Peristiwa bencana gempa dan tsunami di sejumlah belahan bumi telah membuka mata dan hati banyak orang bahwa masih ada semangat perikemanusiaan dan gotong royong membantu para korban.

Kelompok masyarakat sebagai pelaku utama manajemen bencana ini harus dapat diupayakan dari tingkat yang paling kecil yaitu Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dusun, kampung, sampai kelompok yang lebih besar yaitu desa atau kelurahan, kecamatan, bahkan kota atau kabupaten.

Pelatihan manajemen kebencanaan berbasis masyarakat ini telah banyak disusun oleh pihak-pihak yang peduli, bentuknya bermacam-macam, sangat bervariasi dengan bahasa rakyat, yang mudah dimengerti dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat dalam melakukan tahap-tahap kesiapsiagaan, tanggap darurat, pasca bencana, mitigasi dan pencegahan.

Barangkali catatan Sentis Medi bahwa ke depan sosialisasi tidak terutama untuk pejabat pemerintah tetapi bagi kelompok masyarakat di tingkat paling kecil perlu mendapat perhatian. Demikian pula pentingnya pelaksanaan gladi berdasar skenario seolah-olah terjadi bencana adalah bentuk lain dari fungsi kontrol dalam manajemen bencana berbasis masyarakat.

Gladi adalah bagian penting yang harus diikuti oleh segenap anggota masyarakat agar bila terjadi bencana maka situasi dapat diatasi tanpa kepanikan. Bagaimanapun juga, gladi tetap harus dilakukan dengan serius demi keselamatan diri dan semua pihak di kala bencana sebenarnya datang secara tiba-tiba. (habis)

Catatan: Bagian 1 dan 2 memang tidak dikutip dalam blog ini

Read More..

Friday, January 18, 2008

SAMPAH KOTA BANDUNG PER HARI = 1.000 GAJAH

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 18 Januari 2008
Foto: Sobirin 2005, Ketika Sampah Bandung Menumpuk


Oleh: SOBIRIN
Berat sampah Kota Bandung tiap hari setara dengan 1.000 ekor gajah. Sampah plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak bola. Sampah kertasnya setara dengan bubur pulp dari 500 batang pohon. Mari kita hitung secara matematika sederhana.



Inilah gambaran sampah yang diproduksi oleh masyarakat Kota Bandung setiap harinya (angka dibulatkan, dari pengamatan sendiri dan sumber lain): sampah rumah tangga dari 3 juta penduduk Kota Bandung kurang lebih 4.500 m3/hari, sampah pasar 600 m3/hari, kawasan komersial 300 m3/hari, kawasan non komersial 300 m3/hari, kawasan industri 750 m3/hari, sampah jalanan 450 m3/hari, sampah yang dibuang ke saluran 15 m3. Jumlah produksi sampah Kota Bandung 6.915 m3 setiap harinya.

Bagaimana sampah tersebut? Kurang lebih sampah organik 65%, kertas 10%, plastik 2%, pecah belah 1,5%, kain 1%, logam 7,5%, lain-lain 13%.

Bagaimana perilaku warga terhadap sampahnya? Hasil pengamatan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat menunjukkan sebanyak 20% sampah dikumpulkan oleh tukang sampah RT untuk di bawa ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), 25% dibuang sembarangan, 25% ditimbun ke dalam tanah, 5% dibuang ke sungai, 25% dibakar.

Ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Bandung masih nebeng di lahan Perhutani dan sering bermasalah, ketika sarana angkutan sampah terbatas, ketika 90% warga Kota Bandung tidak peduli terhadap sampahnya, ketika rencana Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) masih menjadi konflik, maka yang terjadi adalah tumpukan-tumpukan sampah selalu saja menghiasi sudut-sudut kota. Bau aromanya jauh dari visi Kota Bandung, yaitu menjadi Kota Jasa yang Bermartabat.

Sebagai pelaku Zero Waste, saya sendiri sangat kecewa dengan warga Kota Bandung yang tidak peduli dengan sampahnya. Tiap malam masih banyak warga yang secara gerilya membawa sampah rumah tangganya, lalu dibuang di sudut-sudut jalan. Jorok sekali!

Dengan volume sampah Kota Bandung 6.915 m3 tiap harinya, dan diasumsikan berat jenis sampah 0,25 maka berat sampah Kota Bandung kurang lebih 1.750 ton tiap harinya. Bila seekor gajah ukuran sedang beratnya 1.750 kg, maka berat sampah Kota Bandung setara dengan 1.000 ekor gajah tiap harinya.

Kandungan plastiknya kurang lebih 2%, maka berat komponen sampah plastik di Kota Bandung sebanyak 35 ton tiap harinya. Diandaikan sampah plastik ini semuanya kantong plastik ukuran 75 cm x 40 cm atau 3.000 cm2 dan tiap kantong plastik tersebut beratnya 20 gram, maka 35 ton sampah plastik sama dengan 1.750.000 kantong kresek yang masing-masing berukuran 3.000 cm2, atau luas semuanya menjadi 52,50 hektar, dibulatkan 50 hektar. Sampah plastik seluas itu bisa menutupi 50 lapangan sepak bola.

Sampah kertas kurang lebih 10%, sama dengan 175 ton tiap harinya. Bila berat jenis kertas sama dengan 0,50 maka volume sampah kertas sama dengan 350.000 liter atau 350 m3. Bila 1 bagian kayu bisa menjadi 0,25 bagian kertas, maka 350 m3 kertas setara dengan 1.400 m3 kayu. Bila 1 pohon menghaslkan 3 m3 kayu, maka 1.400 m3 kayu setara dengan kurang lebih 500 pohon.

Mohon dibayangkan berat sampah Kota Bandung tiap harinya setara dengan 1.000 ekor gajah, sampah plastiknya tiap hari bisa menutupi 50 lapangan sepak bola, dan sampah kertasnya tiap hari berasal dari menebang 500 batang pohon.

Bila warga Kota Bandung tetap tidak peduli terhadap sampahnya, berarti memang tidak peduli lagi terhadap keberlanjutaan kotanya. Tunjukkanlah padaku sebuah kota, maka saya akan tahu seperti apa warga kotanya. Bagaimana matematika sampah di kota anda?

Read More..