Saturday, April 28, 2007

JANGAN SEKADAR LATAH!


Pikiran Rakyat, Senin 23 April 2007

Figure: www.witc.edu/rlake/activity/bpa/earthday2004.htm

Dalam tulisannya, Bumi yang Semakin Letih (April, 2004), anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Supardiono Sobirin juga menyinggung hal ini.


SITUS http://en.wikipedia.org menulis bahwa Hari Bumi sejatinya dirayakan oleh dua "aliran" yang berbeda. Kendati, keduanya memiliki inspirasi dan maksud yang sama, yakni menguatkan kesadaran dan apresiasi terhadap kondisi lingkungan bumi yang kian terdegradasi.

Hari Bumi yang pertama disebut sebagai The Equinoctial Earth Day, yang justru diperingati pada tanggal 21 Maret. Disebut sebagai "equinoctial", karena terkait dengan hari istimewa sekitar 21 Maret, ketika terjadi apa yang disebut sebagai vernal equinox. Hal itu mengacu pada bertepatannya awal musim semi di belahan bumi utara dengan musim gugur di belahan bumi selatan. Pada saat demikian, siang dan malam sama durasinya di belahan bumi mana pun.

Dalam tulisannya, Bumi yang Semakin Letih (April, 2004), anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Supardiono Sobirin juga menyinggung hal ini. Ia memaparkan bahwa Hari Bumi pada 21 Maret bermula dari rintisan John McConnell, seorang warga Negara Bagian California yang menaruh perhatian kepada planet bumi ini yang semakin lama semakin memprihatinkan keadaannya.

Pada Oktober 1969, John McConnell menyampaikan sebuah proposal kepada Wali Kota San Francisco, melalui Dewan Supervisi Kota, yang intinya mengimbau seluruh warga agar berbuat sesuatu kebaikan untuk bumi tempat tinggal umat manusia ini. Wali Kota San Francisco waktu itu, George Christopher, menyambut baik ide ini dan memproklamasikannya sebagai Hari Bumi tanggal 21 Maret 1970, dan dirayakan di hampir seluruh negara bagian California.

Rupanya ide berbuat kebaikan untuk planet bumi ini disambut oleh Sekretaris Jenderal PBB waktu itu, U Thant. Dalam pidatonya 21 Maret 1971 sewaktu memberikan sambutan dalam upacara lonceng perdamaian diproklamasikan pula tanggal tersebut sebagai hari bumi. Suatu hal yang menarik, pada saat yang sama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (United Nations Food and Agriculture Organisation) juga memilih tanggal 21 Maret, sebagai hari hutan sedunia. Sama-sama dalam naungan PBB, namun ada dua peristiwa yaitu hari bumi dan hari hutan sedunia diproklamasikan pada tanggal yang sama, 21 Maret.

Sementara itu, Hari Bumi kedua dan lebih "populer" adalah yang jatuh pada 22 April. Hari Bumi 22 April bermula dari kepedulian Senator AS dari Wisconsin, Gaylord Nelson terhadap degradasi lingkungan yang kian meluas.

Melalui organisasi Pembelajaran Lingkungan (the Environmental Teach In), Nelson terus menggelorakan spirit penyelamatan bumi. Pada 22 April 1970, tak kurang dari 20 juta penduduk di seluruh penjuru Amerika Serikat (AS) turun ke jalan mengampanyekan kepedulian terhadap penyelamatan bumi dari degradasi lingkungan yang kian menghebat.

Mungkin, akibat aksi civil society warga AS itulah, Hari Bumi 22 April lebih mendapat sambutan luas. Beberapa kalangan menyatakan, kini setiap tahun, lebih dari 500 juta penduduk dunia serta pemerintah di 175 negara turut merayakan Hari Bumi 22 April tersebut.

"Jadi, Hari Bumi pada 22 April sebetulnya bukan hari bumi internasional, tapi hari bumi di AS saja. Hal itu bermula dari gerakan civil society di AS pada era 1970-an akibat industrialisasi di AS yang tak lagi memedulikan lingkungan dan kemanusiaan. Inisiatif itu direspons Senator Gaylord Nelson dan terus berkembang," ungkap pengamat lingkungan yang juga mantan dosen arsitektur ITB Bandung, Tjuk Kuswartojo.

Tjuk memandang konteks Hari Bumi 22 April agak berbeda dengan Hari Lingkungan. "Yang pertama lebih pada gerakan civil society, sedangkan yang kedua merupakan tekad berbagai negara untuk memperbaiki atau setidaknya mengurangi degradasi lingkungan di atas planet bumi kita ini," ucapnya.

Dalam pandangan Tjuk Kuswartojo, kita jangan terjebak pada gejala latah dengan membuat berbagai momen seremonial peringatan Hari Bumi 22 April. "Kalau toh mau dipetik manfaatnya, mestinya memang dalam kondisi sekarang ini, seluruh dunia memiliki persoalan yang sama, yakni perubahan iklim yang kian ekstrem dan tidak lagi pandang bulu. Negara kaya atau miskin, sama-sama mengalami gejala tersebut," paparnya.

Hal senada disampaikan Sobirin. Menurut Sobirin, John McConnell sebagai penggagas awal Earth Day pun tidak keberatan hari bumi dirayakan pada tanggal 22 April. "Yang penting masyarakat di dunia mau berbuat kebaikan untuk planet bumi tempat tinggal umat manusia. Apalagi, tanggal 21 Maret juga tetap dipilih sebagai Hari Hutan Sedunia yang kaitannya juga sangat erat dengan lingkungan hidup."

Menurut Tjuk Kuswartojo, saat ini masyarakat dunia tak mungkin lagi membendung perubahan iklim. Yang paling bisa dilakukan adalah beradaptasi dengan perubahan iklim."Tidak mungkin kita mengembalikan kondisi seperti semula. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi perubahan ekstrem tersebut," ucapnya.

Dalam konteks regional dan lokal, kata Tjuk, yang diperlukan saat ini adalah common value atau tata nilai bersama terhadap lingkungan. "Sementara di sisi lain, produk perundangan kita tentang lingkungan masih sangat abstrak dan tidak jelas. Bahkan, bila dibandingkan dengan UU Lingkungan di Malaysia sekalipun. Oleh karena itu, perbedaan pandangan antara pengusaha, pejabat, dan mayoritas masyarakat tentang lingkungan selalu berbenturan di negeri ini," urainya. (Erwin Kustiman/"PR")***

1 comment:

hanayoridango said...

Saya ery sekarang ini sedang menulis skripsi tentang Taman Kota...saya ingin tanya Pak,, taman kota itu sendiri klasifikasinya apa aja...khususnya taman-taman kota di bandung...terima kasih harap Bapak bisa sedikit menjelaskannya.