Saturday, April 28, 2007

KBU PENYEBAB BANJIR



Pikiran Rakyat, Kamis 26 April 2007

Foto: Sobirin, 2005, Perbukitan Kawasan Bandung Utara



BANDUNG, (PR).-

Banjir yang melanda Kel. Jatihandap dan Kel. Padasuka, Kec. Mandalajati, Kota Bandung disebabkan minimnya kawasan lindung di daerah Bandung utara. Kawasan lindung di subdaerah aliran sungai (DAS) bagian utara Bandung, kini sudah gundul karena maraknya pembangunan vila-vila dan perumahan. Demikian dikatakan anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Supardiono Sobirin, Rabu (25/4).

Sobirin menduga, bagian hulu Sungai Cipamokolan sebagai sub-DAS Cicadas mengalami rusak berat. Hal itu diperparah dengan adanya penyempitan dan pendangkalan di sekitar hilir yang ada di Kota Bandung. “Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, setiap DAS termasuk sub-DAS yang besar atau kecil, minimal 30% harus berupa kawasan lindung, atau bahkan hutan,” kata Sobirin.

Kota Bandung, ucap dia, dipengaruhi oleh lima sub-DAS yaitu sub-DAS Cibeureum di bagian barat, sub-DAS Cikapundung di timur, sub-DAS Cidurian, sub-DAS Cicadas, dan sub-DAS Cikeruh di bagian paling timur. Sungai Cipamokolan, termasuk dalam rangkaian sub-DAS Cicadas. Sobirin mengatakan, berdasarkan data yang ada, pada lima sub-DAS tersebut, saat ini kawasan lindungnya telah mencapai angka 0%. Untuk menyelamatkan Kota Bandung, Sobirin menyarankan Pemkot Bandung berkoordinasi dengan Pemkab Bandung agar membatasi pembangunan di wilayah utara.

Kondisi di lapangan, warga di Kel. Jatihandap Kec. Mandalajati dan Kel. Padasuka Kec. Cibeunying Kidul Kota Bandung yang menjadi korban banjir bandang, hingga kemarin masih belum mendapatkan bantuan. Sebagian besar warga membutuhkan bantuan berupa selimut, pakaian, serta bahan makanan yang telah mulai menipis persediaannya. “Terutama pakaian dalam, sudah tiga hari nggak ganti-ganti karena baju-baju terendam lumpur semua,” ujar Ny. Erwin (47), warga RT 02 RW 08 Kel. Jatihandap Kec. Mandalajati, kemarin.

Sejak kejadian, warga mendirikan posko kesehatan dan dua dapur umum secara spontan. Bahan-bahan makanan dan bantuan lain hasil sumbangan warga sekitar yang tidak terkena luapan air dikumpulkan oleh warga korban banjir bandang. Ironisnya, bantuan dari pemerintah justru belum ada. Koordinator Posko Pengungsi, Nining (30), mengatakan, hingga kemarin belum ada bantuan dari dinas-dinas atau instansi kecuali dari Puskesmas Mandalamekar. Data posko itu mencatat, sedikitnya 100 orang pasien yang berobat dalam waktu sehari kemarin. Umumnya, keluhan pasien adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), gatal-gatal, maag, diare, dan tekanan darah tinggi karena stres.

Menurut Ketua RT 02 RW 08, Aming, banjir serupa pernah terjadi pada tahun 2000 dan Januari 2007. Akan tetapi, banjir kali ini lebih parah karena air sungai membawa serta lumpur tebal hingga ketinggian sekitar dua meter. Lurah Jatihandap, Deden Mardeni mengatakan, jumlah rumah yang terendam seluruhnya ada 96 yang dihuni 103 kepala keluarga atau 612 jiwa. Total kerugian yang diderita diperkirakan mencapai Rp 250 juta. Sedangkan di Kec. Cibeunying Kidul ada 30 KK dengan 129 jiwa. Deden berharap agar Pemkot Bandung segera membangun bronjong di Sungai Cipamokolan yang berdekatan dengan lokasi kejadian. Setelah mengadakan rapat koordinasi, Wali Kota Bandung, Dada Rosada memutuskan akan memberi bantuan kepada korban banjir sebesar Rp 130 juta. Ia menjanjikan hari ini (Kamis, 25/4) atau Jumat (26/4), bantuan sudah bisa diterima warga. Selain itu, bantuan berupa uang juga akan disalurkan kepada korban banjir di Kec. Rancasari Rp 10 juta dan Kec. Bandung Wetan sebesar Rp 5 juta.

Belum surut
Di wilayah Kab. Bandung, banjir di sejumlah langganan banjir di Bandung Selatan tak kunjung surut. Derasnya hujan dalam beberapa hari ini telah menaikkan permukaan Sungai Citarum serta sejumlah anak sungainya. Akibatnya, genangan air pada ribuan permukiman masih terjadi sejak seminggu lalu. Beberapa wilayah yang paling parah terkena banjir yakni Kec. Rancaekek, Cileunyi, Baleendah, dan Dayeuhkolot. Dua anggota Komisi D DPRD Kab. Bandung, Dadang Rusdiana dan Adjidin melakukan peninjauan langsung di Baleendah disertai Camat Baleendah, Terry Rusinda.

Data di kantor Kec. Baleendah hingga sore kemarin mencatat, 1.144 rumah terendam di Kel. Andir dan 1.490 rumah di Kel. Baleendah. Total korban banjir di dua kelurahan di Baleendah itu tak kurang dari 10.000 jiwa. Sejumlah fasilitas umum dan sekolah juga tak luput dari genangan banjir. Sementara itu, genangan banjir juga masih bertahan di wilayah Kec. Dayeuhkolot. Tercatat sedikitnya 1.673 rumah di empat kelurahan (Dayeuhkolot, Citeureup, Pasawahan, dan Cangkuang Wetan) masih terendam yang dihuni oleh 6.575 jiwa.

Banjir tak kunjung surut juga terlihat di Kec. Rancaekek. Ribuan rumah warga di wilayah itu masih tergenang. Kebanyakan warga membutuhkan bantuan obat-obatan dan makanan. Warga juga mengharapkan pemerintah untuk memberikan bantuan air bersih dan melakukan fogging (pengasapan).

“Meluapnya Sungai Cimande, Cikijing dan Cikeruh, hingga saat ini masih menggenangi sejumlah perkampungan,” ujar Camat Rancaekek, Dadang Setiawan. Ia mengatakan, banjir di wilayahnya menimpa 8 desa. Sebanyak 11.000 rumah warga, diantaranya 32 RW terendam dengan ketinggian air antara 50 hingga 150 cm. Selain merendam rumah penduduk, kata Dadang, banjir juga telah merendam 355 ha sawah siap panen.

Wilayah yang masih terendam banjir meliputi, Desa Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Bojongloa, Linggar, Bojongsalam, Cangkuang, Sukamulya, dan Haurpugur. Daerah yang paling parah terendam di Desa Bojongloa dan Linggar. Di Kec. Cileunyi akibat jebolnya tanggul Kali Cibiru Hilir, sedikitnya 450 rumah di Kompleks Asrama Polisi (Aspol) Cibiru terendam air setinggi hampir 80 cm. Sedangkan di Kec. Majalaya, luapan Sungai Citarum menerjang sedikitnya 1.230 rumah di empat desa (Desa Majalaya, Majasetra, Majakerta dan Sukamaju). (A-87/A-124/A-156) ***