Saturday, June 30, 2007

TANGGAPAN ATAS KOMIK BENCANA LPM UNPAD

BUKU KOMIK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI
Penanggung Jawab Materi: Prof. Dr. Ir. Adjat Sudradjat, M.Sc.

Koordinator Penyusun/ Editor: Ir. Nana Sulaksana, MSP.

Anggota Tim: Tim Kreatif LPM-UNPAD Bandung

TANGGAPAN
Oleh: Sobirin, Anggota DPKLTS, Bandung 2 Juli 2007
Gambar: Repro Komik Gempa Yayasan IDEP, www.idepfoundation.org (sebagai pembanding)




1. UCAPAN PENGHARGAAN

Mula pertama saya mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Divisi Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Daya Alam, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM), Universitas Padjadjaran (UNPAD), khususnya kepada Prof. Dr. Ir. Adjat Sudradjat, M.Sc., dan Ir. Nana Sulaksana, MSP., beserta seluruh tim yang telah menghasilkan karya buku komik pendidikan berjudul: “Gempa Bumi dan Tsunami, Kenapa Terjadi Gempa Bumi dan Tsunami?”.

Tidak mudah menyusun buku komik pendidikan. Dari sekian banyak komik yang telah beredar dengan label untuk pendidikan, ternyata banyak yang tidak tepat sasaran. Di satu sisi sang ilustrator dan penata grafis, walau ahli di bidangnya, tetapi tidak memahami esensi materi pendidikan yang akan di-komik-kan. Di sisi lain, sang ahli dalam bidang ilmu yang akan di-komik-kan, kurang mampu menyusun skenario jalan ceritanya, sehingga sulit digambarkan oleh sang ilustrator dan penata grafis.

Khususnya dalam komik pendidikan tentang ke-geologi-an, saya percaya bahwa LPM UNPAD akan mampu menerbitkan Seri Komik Pendidikan yang akan tepat sasaran, karena yang saya tahu bahwa Prof. Dr. Ir. Adjat Sudradjat, M.Sc., selain ahli dalam bidang geologi, sejak mudanya beliau juga sangat berbakat dalam hal gagas-menggagas ide, lukis-melukis, membuat sketsa, bahkan membuat tokoh-tokoh kartun.

Semoga komik pendidikan “Gempa Bumi dan Tsunami, Kenapa Terjadi Gempa Bumi dan Tsunami?” ini akan disusul dengan komik-komik pendidikan dari bidang ilmu lainnya sebagai rangkaian Seri Komik Pendidikan LPM UNPAD, karena saya juga percaya bahwa di setiap divisi di LPM UNPAD ini banyak pula tokoh yang seperti Prof. Dr. Ir. Adjat Sudradjat, M.Sc.


2. POTENSI KOMIK SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN

1) Batasan Komik
Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks biasa atau yang ditempatkan dalam “balon kata”. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri. Komik sering pula disebut dengan cerita bergambar atau disingkat cergam.

2) Sejarah Komik Indonesia
Komik versi cetak melalui media massa pertama kali dikenal di negeri kita sebelum kemerdekaan, yaitu dengan munculnya komik Put On hasil karya Kho Wan Gie di harian Sin Po pada tahun 1930. Kemudian pada tahun 1939 terbit komik Mencari Putri Hijau oleh Nasroen As yang dimuat dalam harian Ratoe Timoer. Tahun 1942 muncul komik Roro Mendut karya B. Margono di harian Sinar Matahari Yogyakarta. Pada jaman Indonesia merdeka tahun 1948 muncul komik bertema kepahlawanan seperti Pangeran Diponegoro, Djoko Tingkir, Kisah Pendudukan Jepang. Tahun 1952 adalah awal kebangkitan komik di Indonesia, yaitu dengan terbitnya buku komik yang melegenda Sri Asih karya R.A. Kosasih, disusul dengan munculnya banyak buku komik lainnya dengan kisah pewayangan dan heroisme. Hingga tahun 1970-an per-komik-an di Indonesia menyurut, tetapi bangkit kembali di tahun 1980-an dengan munculnya komik-komik roman remaja antara lain karya Jan Mintaraga dan komik-komik silat dan heroisme antara lain karya Ganes TH.

3) Intervensi Komik Asing
Pada tahun 1950-an, komik asing dari Amerika telah masuk di Indonesia, misalnya Flash Gordon, Tarzan, Phantom, dan komik seri Walt Disney’s yang dicetak melalui media massa saat itu. Kejenuhan tema komik Indonesia dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia telah memungkinkan komik asing masuk dengan gencar ke Indonesia. Tak ketinggalan komik Perancis-pun turut merajai pasar komik Indonesia, seperti Tin Tin, Asterix, Tanguy. Bahkan tahun 1990 adalah awal “membludag”nya komik-komik Jepang yang mengalahkan komik-komik lainnya hingga kini. Pengaruh komik Jepang ini sangat kuat, dengan tokoh-tokohnya yang bermata lebar telah banyak dicontoh oleh komikus-komikus Indonesia yang berusaha membangkitkan dunia per-komik-kan di negara sendiri.

4) Komik Dituduh Merusak Jiwa Anak
Dalam perjalanannya, komik telah mengalami nasib yang tidak baik. Komik telah dituduh sebagai biang kemalasan dan merusak jiwa anak. Saya-pun merasakan hal tersebut, ketika masih duduk di Sekolah Rakyat tahun 1950-an sampai menjelang 1960-an, membaca komik seolah ditabukan oleh orang tua maupun guru, karena dikatakan dapat mengganggu pelajaran sekolah. Bahkan menurut pengamat komik Imansyah Lubis (Kompas, 17 September 2004), pada tahun 1950-an di Amerika muncul gerakan antikomik berupa pemboikotan dan pembakaran massal buku komik yang dianggap sebagai ”racun” pendidikan. Untuk meredam aksi protes itu dibentuk sebuah lembaga bernama CCA (Comics Code Authority) yang fungsinya semacam badan sensor komik. Setiap komik yang dijual di tempat umum harus menggunakan tanda persetujuan CCA yang terbilang ketat.

5) Komik Sebagai Karya Seni
Berbeda dengan di Amerika, justru di Prancis tahun 1958, sosiolog E. Morin muncul sebagai orang pertama yang membela komik dan menulis artikel di majalah Le Nef, membela komik sebagai produk seni budaya. Kemudian pada 1962 berkat rangsangan F. Lacassin dan sineas Alain Resnais pada tahun 1962 dibentuk Klub Komik yang pada tahun 1964 berkembang menjadi Centre d’Etudes des Litteratures d’ Expression Graphique (C.E.L.E.G) atau Pusat Kajian Sastra Grafis. Berbagai komik diterbitkan kembali sehingga komik juga memiliki sejarawan, ahli estetika sampai ahli tafsir walau masih banyak para moralis dan pendidik menganggapnya sebagai ”racun”. Laccasin dan koleganya menobatkan komik sebagai seni ke-sembilan. Walaupun sesungguhnya penobatan ini hanya sebuah simbolisasi penerimaan komik ke dalam ruang wacana seni, tanpa menyebutkan apa urutan seni yang ke-satu sampai ke-delapan.

6) Potensi Komik Dalam Kampus
Sampai saat inipun masih banyak yang menganggap bahwa komik adalah sesuatu yang “sepele”. Begitu ”sepele”nya komik sehingga telah dilupakan ”jasa”nya sebagai sarana belajar anak-anak dalam memperlancar membaca buku teks. Kita tidak bisa membohongi diri bahwa nyaris masa kecil tiap anak hampir selalu diawali dengan komik. Anggapan yang sering muncul komik adalah cerita anak yang sangat sederhana, miskin seni, apalagi bahasa. Namun, tidak bisa disangsikan lagi bahwa saat ini komik telah berkembang sebagai industri media setara dengan buku novel bahkan film. Negara maju dan cerdas seperti Jepang, Amerika, dan Perancis telah lama menggarap secara serius potensi komik sebagai sarana pendidikan dan komoditas yang mampu menembus pasar global. Pada dasarnya, komik adalah media informatif, yang selain bersifat menghibur, juga dapat dikembangkan sebagai media pemberdayaan masyarakat yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mencerdaskan bangsa. LPM UNPAD termasuk jeli dalam memahami fungsi komik ini, yaitu dengan mulai menerbitkan Seri Komik Pendidikan. Komikus kampus akan lebih maju dan menonjol dalam menghasilkan karya-karya Seri Komik Pendidikan, karena yang bersangkutan mengetahui banyak tema dan hal dalam bidangnya yang akan dituangkan dalam cerita komik. Akan aneh jika seorang komikus membuat cerita tentang ke-geologi-an tanpa tahu dan memiliki data lengkap tentang masalah ke-geologi-an, tentang pertanian tanpa tahu dan memiliki data lengkap tentang masalah pertanian, dan sebagainya.


3. PLUS MINUS KOMIK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

Setelah saya membaca dan menekuni berulang-kali untuk maksud memahami buku komik “Gempa Bumi dan Tsunami, Kenapa Terjadi Gempa Bumi dan Tsunami?” pruduksi LPM UNPAD ini, maka tanpa bermaksud memberi komentar asal-asalan apalagi menggurui, saya mencoba memberi masukan-masukan yang sifatnya membangun, sebagai berikut di bawah ini.


1) Bentuk Buku

Bentuk buku telah sangat manis. Sekarang ini ukuran buku 21,0 cm x 14,5 cm menjadi populer dan dianggap praktis sebagai buku-buku panduan termasuk buku komik. Pewarnaan cukup bagus, cukup lembut, tetapi tetap menarik perhatian. Ditunjang lagi kertasnyapun cukup berkualitas. Sebagai masukan saya menyampaikan sebenarnya halaman “cover” yang dilipat sebagian tidak perlu karena agak “mengganggu”. Cetakan ucapan terimakasih dan susunan tim bisa dicetak di halaman cover depan dalam dengan konsep warna yang sama. Demikian juga ucapan Halo dengan tokoh Puss dapat dicetak di halaman cover belakang dalam dengan konsep warna yang sama.


2) Isi komik

Di halaman depan (judul)
Sebaiknya dilengkapi dengan alamat lengkap, termasuk telpon, email, website, untuk sarana interaktif dengan publik yang membutuhkan. Karena buku ini adalah buku “resmi”, seyogyanya dimintakan nomor ISBN dan “barcode” kepada pihak yang berwenang.

Sub judul “Kenapa terjadi gempa bumi dan tsunami?”
Bisa dilengkapkan dengan “Apa?. Kenapa terjadi? Bagaimana upaya siap siaga?”

Sebaiknya ada kata pengantar
Atau sekapur sirih sebagai pembuka buku komik ini yang ditandatangi oleh penanggung jawab atau Rektor UNPAD.

Tokoh dalam cerita komik
Ini telah cukup bagus diperkenalkan satu-persatu. Saya menduga tokoh Trias dan Mika berumur 11 tahun adalah murid kelas 5, paman Geos berumur 23 tahun adalah mahasiswa Geologi tingkat akhir, Garnett berumur 16 tahun adalah murid kelas 9 atau SLTA kelas 1. Ayah dan Ibu berumur paling tidak 40 tahunan, sama dengan pak Lurah, pak Guru dan bu Guru. Moga-moga dugaan saya benar. Mungkin ke depan perwajahan tokoh ini perlu disempurnakan sesuai usia, karena nampak antara Mika dan Garnett tidak ada beda dalam usia, demikian pula antara paman Geos dan Ayah kelihatan seumur.

Sayang sekali tokoh bu Guru
Belum diperankan, hanya terlihat di halaman pengenalan tokoh dan potret bersama di halaman 24.

Gambar dan balon kata
Akan lebih komunikatif bila letaknya dibuat “urut” untuk memudahkan pemahaman. Contoh yang kurang urut bisa dilihat antara lain di halaman 1 dan halaman 5. Sedangkan letak balon kata yang telah baik dan urut bisa dilihat di halaman15.

• Gambar diagram balok lempeng tektonik halaman 10
Seyogyanya posisi perspektif gunungapi-nya dideretkan sejajar garis pertemuan lempeng.

Skala MMI halaman 13
Alangkah baiknya bila gambar paman Geos dan balon katanya di letakkan di halaman 13 atas, sekalian sebagai judul Skala MMI.

Peta Zona Gempa Bumi Indonesia
Seyogyanya dicheck dengan peta yang lebih baru. Mengingat judul komik ini menyangkut pula tsunami, alangkah baiknya untuk cetakan Edisi Ketiga digambar peta lokasi potensi tsunami. Tidak ada salahnya gambar peta supaya seperti aslinya, akan lebih membantu para pembaca, karena peta yang “dikarikaturkan” kurang pas.

Seyogyanya tidak ada halaman yang kosong (setelah halaman 24)
Sayang kertas. Bisa untuk halaman catatan bagi para pembaca, dengan judul atas di tulis Halaman Catatan.


4. CATATAN AKHIR

Pada pandangan saya, secara umum buku komik “Gempa Bumi dan Tsunami, Kenapa Terjadi Gempa Bumi dan Tsunami?” ini telah bagus, baik kualitas maupun isinya. Keberadaan tokoh-tokoh dalam keluarga telah sesuai dengan konsep mitigasi bencana berbasis masyarakat, yang tidak lain dimulai dari kesadaran dari lingkungan keluarga. Hakekat mitigasi bencana berbasis masyarakat adalah mendorong masyarakat mampu menolong dirinya sendiri.

Akan lebih bagus lagi bila dalam cetakan Edisi Ketiga yang akan datang di lakukan penyempurnaan sesuai masukan-masukan dari berbagai pihak. Kita semua maklum bahwa banyak buku sejenis yang telah diterbitkan oleh beberapa pihak lain. Walaupun bukunya sejenis dengan topik yang sama pula, tetapi saya percaya semuanya akan saling mengisi. Biarkan masyarakat lebih banyak belajar dari semua buku yang beredar. Biarkan pula masyarakat memilih buku yang terbaik. Sebagus apapun, materi atau isi komik akan berantakan dan tidak laku bila tidak diimbangi dengan penampilan yang menawan. Daya tarik komik memang pada gabungan antara teks yang menarik dan gambar yang bagus. Menikmati komik bukan hanya membaca teks, tapi juga menikmati urutan gambar-gambar. Kedua hal itu saling mendukung dan saling melengkapi.

Sebagai bahan pembanding, bisa dibaca komik kebencanaan yang diterbitkan oleh Yayasan IDEP, yang telah menerbitkan buku komik panduan PPBM (Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat), seri komik: gunung berapi, tsunami, banjir, tanah longsor, badai, gempa, perdamaian, dan terorisme. Buku-buku tersebut dapat di “down load” melalui www.idepfoundation.org.

Semoga komik ini bisa cepat beredar di masyarakat, bila dibeli harus dengan harga yang terjangkau, syukur bila bisa diedarkan secara gratis untuk mempercepat pemberdayaan dan pencerdasan masyarakat.


5. PUSTAKA

Adjat Sudradjat dan Nana Sulaksana. 2007. Gempa Bumi dan Tsunami, Kenapa Terjadi Gempa Bumi dan Tsunami? Seri Komik Pendidikan. LPM UNPAD. Edisi Kedua Juni 2007.

Donny Anggoro. 2003. Terdakwa Itu Adalah Komik. Harian Umum Sore: Sinar Harapan. Halaman Budaya.

Guntur Angkat. 2004. Selintas Sejarah Komik Indonesia. Pendidikan Network. 23 November 2004.

Hafiz Ahmad. 2002. Belajar dari Komik: Memahami Potensi Media yang Tersembunyi. Martabakomikita, multiply.com, 11 Maret 2002.

Noor Cholis. 1996. Tentang Komik: Yang Menggemaskan, Yang Cerdas. Kalam Edisi 7, Komikaze.

Wikipedia. 2007. Komik. Wikipedia Foundation, Inc. Powered by MediaWiki. A Wikipedia Project.

Yayasan IDEP. 2007. Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Seri Buku-Buku Panduan. www.idepfoundation.org.






1 comment:

Nana Sulaksana said...

terimaksih banyak pa sobirin, dengan komentar itu kami jadi mempunyai wawasan yg lebih ttg komik, sebab kami menterjemahkan ide p AS tanpa belajar ilmu komik dulu, cuma salah satunya sbg upaya pembekalan untk mhs yg mau KKNM. Rasanya memang semua saran dapat diakomodir pada saat edisi ulang yad.Ada beberapa yg kami belum puas juga misalnya bentuk penampang globe nya bumi yg blm pas. Pernah ada yg ngasih ide nama tokoh diganti yang tradisional dari sunda, namun karena kami ingin dibaca juga dari Aceh sd Papua, jadi kami tetep pake nama tokoh itu, disamping biar masyarakat sdh mulai mengenal istilah spesifik di ilmu geologi itu. Dalam pemikiran kami ini dibuat seri sehingga nanti tokohnya sama tapi plot ceritanya misalnya untuk gunungapi, longsor, air tanah dst, yg semuanya diatur dalam dialog komik, karena kami ingin menyampaikan itu bukan sebagai sesuatu bencana yg menakutkan tapi sesuatu pengetahuan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kewaspadaan yang diingat anak SD Kls. 5 atau SMP kl 1, sehingga bisa mempromosikan juga ingin sekolah ke geologi, sekali lagi tks banget dan penghargaan buat bapak yg dg tlah menyisihkan waktu disela kesibukan untk menelaah komik ini. Samapi jumpa di GSG UNPAD besok tg 2 Juli dlm rangka ulangtahun emas nya Unpad, nuhun