Saturday, September 15, 2007

MITOS HUTAN: MENGENDALIKAN TATA AIR

LEUWEUNG RUKSAK, CAI BEAK, MANUSA BALANGSAK
Pikiran Rakyat, 22 November 2004, Teropong

Foto: www.jupiterimages.com, River in Rain Forest Indonesia

Oleh SOBIRIN
Memang benar manusa balangsak lantaran cai beak, dan cai beak lantaran leuweung ruksak. Jangan sampai terlambat, hutan Tatar Sunda yg tengah menjemput ajal harus segera kita selamatkan!


Warga yang awam dalam masalah cuaca dan iklim tentunya akan bertanya-tanya, di akhir bulan Oktober 2004 lalu di Kota Bandung belum turun hujan dan udara panas terik bahkan sempat mencapai 33 derajat celcius, namun mengapa di Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur telah turun hujan yang menyebabkan Sungai Sarongge banjir bandang membawa kerugian harta sampai miliaran rupiah, bahkan telah mengakibatkan tanah longsor yang memutuskan arus lalu lintas di Kecamatan Cibinong di Cianjur Selatan.


Diberitakan pula bahwa di kabupaten Bandung penanaman benih padi musim tanam Oktober 2004 sampai Maret 2005 dipastikan terlambat karena hingga awal November ini belum juga turun hujan. Bahkan warga desa Kamarang di Kabupaten Cirebon kesulitan mendapatkan air karena sumur-sumur desa telah mengering selama 8 bulan ini.


Kedatangan musim hujan di satu pihak sangat ditunggu-tunggu untuk mengolah lahan pertanian, namun juga sering disertai perasaan khawatir akan terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Tidak pernah disadari bahwa kondisi daerah tangkapan hujan di Jawa Barat ini telah rusak parah.


Dari 40 daerah tangkapan hujan atau daerah aliran sungai (DAS) di Jawa Barat ini 17 telah sangat kritis, terutama DAS yang ke utara. Bila hujan turun di daerah tangkapan hujan yang kritis ini, maka semua air hujan langsung melimpas dan mengerosi tanah, menjadi banjir bandang, menimbulkan bencana longsor. Di musim hujan air berlebihan tak terkendali menjadi bencana banjir, dan sebaliknya di musim kemarau tidak lagi ada cadangan air menimbulkan bencana kekeringan.


Dalam siklus hidrologi skala DAS terdapat unsur gudang-gudang air (water storage) yang saling terkait melalui proses presipitasi, evaporasi, evapotranspirasi, infiltrasi dan perkolasi. Gudang-gudang tersebut adalah gudang air di atmosfer, gudang air di hutan, gudang air di sungai dan danau, gudang air di lapisan tanah dangkal dan di lapisan tanah dalam, serta gudang air di lautan.


Bila salah satu gudang air ini terganggu, maka keseimbangan siklus hidrologinya pun akan terganggu pula. Katakanlah bila hutan di puncak gunung dan bukit digunduli, muncul bencana banjir, longsor dan kekeringan yang silih berganti sepanjang tahun.


Begitu eratkah hubungan antara keberadaan hutan dan perilaku tata air air? Terdapat dua hipotesa yang kontroversi, di satu pihak mengatakan keberadaan hutan akan meningkatkan hasil air di DAS, di lain pihak mengatakan bahwa keberadaan hutan akan mengonsumsi air di DAS.


Seorang ahli hidrologi, Hidayat Pawitan (2004), mengatakan bahwa kontroversi hipotesis tersebut akibat 4M, yaitu: mis-information, miss-interpretation, miss-understanding, dan myth (mitos) tentang hubungan antara hutan dan air. Hidayat Pawitan (2004) berhasil menghimpun penjelasan-penjelasan bahwa setidaknya ada enam aspek pengaruh hutan terhadap hidrologi wilayah, yaitu: hutan meningkatkan curah hujan, hutan meningkatkan aliran sungai, hutan mengatur fluktuasi aliran sungai dan meningkatkan aliran rendah musim kemarau, hutan mengurangi erosi, hutan mengurangi banjir, hutan meningkatkan mutu pasokan air.


Bahkan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) menggunakannya sebagai moto: no forest, no water, no future (leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak).


Sebuah contoh fakta tentang eratnya hubungan antara hutan dan air, mari kita lihat kasus di Kampung Cikamurang, Kabupaten Indramayu. Waktu itu bulan Juli tahun 2003, Jawa Barat tengah musim kemarau, kekeringan dimana-mana terutama di kawasan Pantura. Namun di kampung Cikamurang, desa Cikawung, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu tidak mengalami kekeringan, Sungai Citayem di kampung tersebut tetap berair di kala tempat lain di Kab. Indramayu kekeringan.


Ternyata keberadaan hutan ulayat di puncak bukit Cikawung seluas 4 hektare mampu membangun iklim mikro di wilayah tersebut, memberikan cadangan air dengan debit sampai 4 m3/ detik, menyelamatkan 1.400 warga dan ratusan hektare sawah tetap bisa digarap pada saat sawah di tempat lain mengalami kekeringan.


Iklim mikro dan kearifan lokal


Sejak berabad yang lalu, nenek moyang kita telah memiliki kalender tradisional yang didasarkan pada keunikan cuaca, kehidupan binatang dan tumbuhan yang berbeda-beda sepanjang tahun, di Jawa dikenal sebagai pranata mangsa, di Tatar Sunda dikenal sebagai kala sunda, dan di Bali dikenal sebagai wariga.


Kalender tradisional ini adalah produk kearifan lokal nenek moyang pada saat Pulau Jawa masih berpenduduk sedikit, kondisi hutannya masih luas, iklim mikro masih baik dan siklus hidrologinya masih andal. Oleh karena itu sangat dimaklumi bila kalender tradisional ini merupakan pedoman utama dalam kehidupan bertani tempo dulu.


Sebagai gambaran luas lahan pulau Jawa kurang lebih 12,5 juta hektare, pada masa prapertanian luas tutupan hutan hampir sama dengan luas pulau, jumlah penduduk tahun 1785 hanya 3,5 juta orang. Tahun 1950 luas hutan pulau Jawa menyusut menjadi kurang lebih 5 juta hektare, jumlah penduduk saat itu kurang lebih 55 juta orang. Tahun 1985 luas hutan Pulau Jawa tinggal tidak lebih dari 2 juta hektare, jumlah penduduk sudah mendekati 100 juta orang.


Tahun 2004 dari pantauan satelit luas hutan yang dianggap baik di pulau Jawa tidak lebih dari 1 (satu) juta hektare, dan jumlah penduduk telah lebih dari 120 juta orang. Pertambahan penduduk dan penyusutan luas hutan yang sedemikian pesat, kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan yang rendah telah berdampak nyata bagi Pulau Jawa, yaitu kerusakan iklim mikro dan krisis air yang parah. Bisa dimaklumi bila kemudian kalender tradisional telah dilupakan orang, karena dikatakan tidak cocok lagi dengan kondisi cuaca dan iklim saat ini.


Namun ada beberapa tokoh budaya dan akademisi yang tertarik menggali kearifan tradisional ini, dapat disebutkan antara lain Ali Sastramidjaya (1991) yang telah meneliti tentang kalender Kala Sunda, Kusnaka Adimihardja (1999) yang telah merangkum buku Petani Merajut Tradisi Era Globalisasi, Mubiar Purwasasmita (2003) yang mengembangkan konsep multiskala untuk membangun kembali iklim mikro.

Penelitian rinci khususnya tentang pranata mangsa Jawa telah dilakukan oleh Indrowuryatno (1999), guru besar ilmu lingkungan Fakultas Sebelas Maret, dan hasil penelitiannya memberikan pemahaman kepada kita bahwa kearifan tradisional nenek moyang bisa diterapkan bila kawasan lindung dipulihkan, iklim mikro kembali pulih, siklus hidrologi andal, dan perilaku kehidupan kita tidak melanggar etika ekosentrisme.


Urutan pranata mangsa lengkap dengan tanda-tanda dan sifat alam yang terkait adalah sebagai berikut:


Mangsa Kasa, umur 41 hari mulai 22 Juni sampai 1 Agustus, angin bertiup dari timur menuju barat, merupakan awal musim kemarau. Tanda alam berupa daun-daun berguguran dan pohon meranggas. Sifat alam bila terjadi hujan akan memberikan kesegaran dan kesejukan. Tumbuhan dan pepohonan jambu, durian, manggis, nangka, rambutan, srikaya, cermai, kedongdong mulai berbunga.
Kehidupan binatang menunjukkan ikan di sungai bersembunyi, telur cengkerik, kasir, belalang menetas, sedangkan kerbau, lembu dan kuda menampakkan keletihan dan malas bekerja. Pada masa ini petani membakar sisa-sisa batang padi yang tertinggal sewaktu panen. Kemudian tanah sawah dicangkul kembali ditanami palawija semacam kacang, jagung, semangka, blewah, ubi dan terkadang padi gadu. Pada tanah yang kering dan sulit air umumnya dibiarkan tidak ditanami.

Mangsa Karo, umur 23 hari mulai 2 Agustus sampai 24 Agustus, angin berasal dari timur. Tanda alam berupa tanah yang retak-retak, membentuk bongkahan, karena saat ini kurang atau tidak ada air. Sifat alam menampakkan pohon-pohon mulai bersemi dan berdaun. Tumbuhan dan pepohonan jambu, durian, mangga gadung, nangka, rambutan nampak berbunga. Benih yang ditanam mulai tumbuh. Sementara pohon pisang, sawo kecik dan jeruk mulai berbuah.

Kehidupan binatang tampak telur binatang melata semisal ular mulai menetas. Pada masa ini petani berusaha mencari air, baik lewat sumur, mata air atau sungai yang masih berair untuk mengairi tanaman palawija yang memerlukan air untuk pertumbuhannya.

Mangsa Katelu, umurnya 24 hari mulai 25 Agustus sampai 17 September, angin bertiup dari timur laut, dan saat ini adalah musim kemarau. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan anak menurut kepada bapak. Sifat alam berupa pepohonan yang telah berdaun dan kelihatan berwarna hijau. Tumbuhan dan pepohonan berupa bambu, gadung, temu, kunyit, huwi, gembili mulai tumbuh.

Kehidupan binatang seperti binatang melata masih senang berada dalam sarangnya. Pada masa ini petani melakukan penyiraman tanaman dari mata air, sumur atau dari sungai yang berair. Tanaman palawija sudah mulai bisa dipanen.

Mangsa Kapat, umurnya 25 hari mulai 18 September sampai 12 Oktober, angin bertiup dari barat laut, dan saat ini merupakan musim peralihan, yang juga dikenal sebagai mangsa labuh. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan air mata tergenang dalam batin. Sifat alam berupa pohon kapuk randu sedang berbuah. Tumbuhan dan pepohonan semacam kepel atau burahol dan asam berbunga, sedangkan duwet, durian, randu, nangka berbuah.
Kehidupan binatang semacam burung pipit, manyar mulai membuat sarang untuk bertelur. Binatang berkaki empat mulai kawin, ikan mulai keluar dari persembunyiannya. Pada masa ini petani mengolah tanah untuk persiapan penanaman padi gogo.

Mangsa Kalima, umurnya 27 hari mulai 13 Oktober sampai 8 November, angin bertiup dari utara bertiup kencang sehingga pepohonan sering tumbang. Tanda alam banyak hujan turun. Sifat alam menunjukkan hujan yang turun sering bahkan curah hujan sering lebat. Tumbuhan dan pepohonan terlihat pohon asam mulai berdaun muda, gadung, kunyit dan temu berdaun lebat. Pohon yang berbuah adalah duwet, mangga, durian, cempedak dan cermai.
Kehidupan binatang menampakkan binatang melata mulai keluar dari sarangnya. Lalat berkembang dan bertebaran di mana-mana. Petani mulai memperbaiki pematang sawah, serta merencanakan pengaturan pembagian air.

Mangsa Kanenem, umurnya 43 hari mulai 9 November sampai 21 Desember, angin bertiup dari barat dan bertiup kencang. Saat ini musim hujan yang terkadang disertai petir dan sering terjadi bencana tanah longsor. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan memperoleh rasa kebahagiaan karena perbuatan baik. Sifat alam menunjukkan pohon buah-buahan mulai masak yang tentunya membuat petani merasa senang. Tumbuhan dan pepohonan mangga, durian dan rambutan mulai masak buahnya.
Kehidupan binatang menampakkan lipas atau kumbang air banyak berkembang dalam parit-parit. Petani masih mengerjakan sawah untuk ditanami padi. Benih padi berupa gabah mulai ditebar di persemaian.

Mangsa Kapitu, umurnya 43 hari mulai dari 22 Desember sampai 2 Februari, angin bertiup dari barat. Saat ini musim hujan dengan curah hujan sangat lebat. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan racun berbisa terbang disapu angin. Sifat alam menunjukkan hujan yang terus-menerus, mata air membesar dan sungai-sungai pun banjir. Tumbuhan dan pepohonan durian, kepundung, salak, sirsak, kelengkeng dan gandaria masih berbuah. Kehidupan binatang menunjukkan burung-burung sulit mencari makan. Pada masa ini petani memperbaiki pematang yang rusak akibat hujan deras.


Mangsa Kawolu, umurnya 27 hari mulai 3 Februari sampai 28 Pebruari atau 29FPebruari, angin bertiup dari barat, hujan mulai berkurang. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan merana dalam hati, batin menangis. Sifat alam berupa hujan mulai jarang turun, tetapi sering terdengan guntur. Tumbuhan dan pepohonan sawo manila, burahol, gayam mulai berbunga. Pohon yang berbuah wuni, kepundung dan alpukat.
Kehidupan binatang antara lain tonggeret berkembang biak, kucing kawin, dan kunang-kunang bertebaran di sawah. Pada masa ini petani melakukan pemeliharaan sawah antara lain memberi pupuk. Tanaman padi mulai tinggi dan ada yang mulai berbunga. Sementara di ladang petani panen jagung.

Mangsa Kasanga, umurnya 25 hari mulai 1 Maret sampai 25 Maret, angin bertiup dari selatan. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan tersiarnya berita bahagia. Sifat mangsa menampakkan tonggeret keluar dari pohon-pohon. Tumbuhan dan pepohonan masih berbunga, yaitu kawista, durian dan sawo kecik. Pohon yang berbuah alpuket, duku, kepundung dan wuni. Sementara padi mulai berisi, bahkan sudah ada yang menguning.
Kehidupan binatang meramaikan suasana dengan suara yang khas dari tonggeret dan jangkrik, sedang kucing mulai bunting. Pada masa ini petani mulai mengerjakan tegalan atau kebunnya. Petani membuat orang-orangan di sawah untuk menakuti dan mengusir burung pemakan padi.

Mangsa Kasadasa, umur 24 hari mulai 26 Maret sampai 18 April, angin bertiup dari tenggara dan bertiup kencang, merupakan musim peralihan menuju kemarau. Masa ini disebut pula dengan istilah mareng. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan pintu gerbang tertutup dalam kalbu. Sifat alam menunjukkan padi disawah mulai tua, burung-burung berkicau dan membuat sarang. Tumbuhan dan pepohonan alpukat, jeruk nipis, duku dan salak berbuah.
Kehidupan binatang semisal sapi dan kerbau mulai bunting. Burung membuat sarang dan mengerami telurnya. Pada masa ini petani ada yang mulai melakukan panen di tegal, sedangkan di sawah petani sibuk menghalau pipit dan gelatik yang mengganggu tanaman padi.

Mangsa Dhesta, umurnya 23 hari mulai 19 April sampai 11 Mei, angin bertiup dari selatan, saat ini musim kemarau. Tanda alam dikiaskan dengan ungkapan permata hati penuh kasih sayang. Angin yang bertiup dari timur laut terasa panas di siang hari. Sifat alam dicirikan oleh sibuknya petani yang tengah memanen padi di sawah. Tumbuhan umbi-umbian juga siap dipanen. Kehidupan binatang dicirikan dengan menetasnya telur burung pipit atau punai dan manyar. Pada masa ini petani sibuk menuai padi dan memanen umbi-umbian di tegalan atau kebun.


Mangsa Sadha, umurnya 41 hari mulai 12 Mei sampai 21 Juni, angin bertiup dari timur, saat ini musim kemarau dan tidak ada hujan. Tanda alam dicirikan dengan hilangnya air dari tempatnya. Sifat alam menampakkan dedaunan yang layu karena panas matahari. Padi di sawah selesai di panen. Air sumur mulai berkurang dan banyak orang yang mengambil air dari tempat lain. Tumbuhan dan pepohonan jeruk keprok, nanas, alpukat dan kesemek berbuah.
Kehidupan binatang kerbau dan sapi di kandangkan untuk diistirahatkan. Nelayan di laut sedang musim ikan nus dan cumi-cumi. Pada masa ini petani menjemur gabah untuk disimpan dalam lumbung. Padi di sawah selesai dipanen, sisa-sisa jerami dibakar, kemudian melakukan persiapan mengerjakan tanah untuk tanaman palawija.

Pemulihan kawasan lindung sebagai prasyarat


Koreksi terhadap penyimpangan kalender tradisional ini memang perlu terus dilakukan, terutama perhitungan hari tanggalnya. Perhitungan pranata mangsa didasarkan pada jumlah hari dalam setahun adalah 365,25 hari. Padahal tepatnya adalah 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 46 detik. Jadi dalam satu tahun terdapat selisih 11 menit, 14 detik, atau terdapat selisih satu hari setiap 128 tahun. Sehingga bisa dimaklumi bila mangsa Kalima dengan tanda-tanda alam banyak turun hujan, yang seharusnya dimulai pertengahan Oktober ternyata mundur sampai awal November.


Kini penyimpangan pranata mangsa bukan saja oleh faktor perhitungan jumlah hari. Kekacauan perhitungan pranata mangsa secara tidak terkendali lebih banyak disebabkan kerusakan lingkungan, hilangnya kawasan lindung, kemajuan rekayasa genetika tanaman pangan, ketergantungan kepada pupuk kimia, penggunaan bahan bakar fosil berlebihan untuk transportasi dan industri, pembuangan limbah dan sampah sembarangan, teknologi hujan buatan, dan lain-lain kegiatan yang tidak ramah lingkungan.


Iklim mikro telah hancur dan tidak mampu lagi menjadi perisai terhadap penyimpangan iklim regional dan global. Memang benar manusa balangsak lantaran cai beak, dan cai beak lantaran leuweung ruksak. Jangan sampai terlambat, hutan di Tatar Sunda yang tengah menjemput ajal harus segera kita selamatkan!***


Penulis anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS).

Read More..

Friday, September 14, 2007

GEDEBAGE KAWASAN KEBERUNTUNGAN?

DARI KELAPA GADING SAMPAI GEDEBAGE
Pikiran Rakyat
, 12 September 2005, Teropong

Foto: Sobirin, 2005, Kelapa Gading, Jakarta Utara


Oleh: SOBIRIN

Tidak perlu ke mana-mana, hoki akan datang sendiri. Dikatakan bahwa “naga” itu raja air (Hai Lung Wang) yang memang senang air. Itulah sebabnya kawasan ini tidak akan bebas air.

B
erita di beberapa media massa menyebutkan bahwa Walikota Bandung tengah minta bantuan konsultan untuk menyusun master plan pembangunan kawasan Gedebage. Lahan yang yang tersedia seluas 526,27 hektar, areal tersebut dibatasi oleh jalan Soekarno-Hatta di utara, jalan tol Padaleunyi di selatan, jalan Gedebage Lama di barat dan jalan Cimencrang di timur. Mungkin di masa yang akan datang kawasan ini akan berkembang lebih luas lagi, bahkan siapa tahu akan menjadi satu kesatuan dengan rencana pengembangan kota baru Tegal Luar yang telah menjadi wacana Kabupaten Bandung.

Apa kaitan antara Kelapa Gading dan Gedebage? Memang kaitan kewilayahan ataupun kepemerintahan tidak ada, yang satu berada di Jakarta dan yang satunya lagi berada di Bandung. Namun kedua kawasan tersebut mempunyai genesa alami yang sangat mirip, dua kawasan ini merupakan daerah dataran banjir. Walaupun Kelapa Gading merupakan daerah banjir, namun faktanya kawasan ini kini telah berubah, berkembang pesat menjadi sebuah kota dalam kota. Bahkan pejabat setempat mengatakan bahwa Kelapa Gading akan menjadi “Singapura-nya Jakarta”.

Padahal di tahun 1970-an, kawasan ini dikenal sebagai daerah rawa-rawa dan persawahan. Sampai dengan awal tahun 1990-an, persawahan masih terlihat di kiri-kanan jalan yang sekarang ini bernama Bulevar Barat Kelapa Gading. Kelapa Gading kini sudah menyerupai “superblock” mandiri dan memiliki akses ke mana-mana. Kawasan seluas kurang lebih 1.800 sampai 2.000 hektar ini telah dipadati oleh kurang lebih 3.500 rumah toko, mal-mal antara lain Mal Kelapa Gading, Mal Artha Gading, pusat-pusat perdagangan seperti Kelapa gading Trade Center, Kelapa Gading Plaza, Food City, Makro dan Goro.

Selain ruko, mal dan pusat perdagangan, telah hadir pula puluhan perumahan mewah dan apartmen yang merupakan ciri bahwa kawasan Kelapa Gading ini merupakan kawasan yang memang sedang berkembang. Harga properti di kawasan ini terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurut informasi, pada tahun 1980-an sebuah rumah “kelas atas” harganya sekitar Rp 75 juta-an, di tahun 2000-an telah meningkat menjadi Rp 750 juta-an, dan sekarang telah berharga diatas Rp 1 sampai 2 milyar, bahkan lebih. Contoh lain, sebidang tanah seluas 200 meter persegi di jalan Kelapa Nias, pada tahun 1997 harganya Rp 425 juta dan pada tahun 2002 harganya telah meningkat menjadi Rp 1,2 milyar.

Puluhan pengembang yang telah berhasil mengubah wajah Kelapa Gading ini diantaranya PT Summarecon Agung Tbk, PT Bangun Cipta Sarana, PT Graha Rekayasa Abadi, PT Pangestu Luhur, PT Bangun Mandiri Pesona, PT Nusa Kirana, PT Budi Graha Permadi dan PT Sunter Agung. Banyak pula broker properti berkantor di kawasan ini, menandakan bahwa memang kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri dan terus akan berkembang. Broker-broker ini jumlahnya mungkin lebih dari 40, antara lain ERA, Ray White, Raine & Horne, PT Bali Realty, Coldwell Banker, PT Propertindo Land Asia (ProLand), Paradise, Christine Property.

Sampai dengan tahun 2002, kawasan Kelapa Gading yang berstatus Kecamatan ini memiliki luas 1.633,7 hektar terdiri atas tiga Kelurahan, yaitu Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading Timur, dan Pegangsaan Dua, berpenduduk 102.493 jiwa dan hampir 65 persen adalah warga keturunan Tionghoa.

Mitos “kepala naga”

Daya tarik Kelapa Gading menjadi kawasan hunian dan perdagangan tidak terlepas dari mitos. Seorang ahli fengsui, Hendra Krisnawarih (Kompas, Rabu 7 Agustus 2002), mengatakan bahwa melonjaknya harga lahan maupun perumahan karena Kelapa Gading merupakan "kepala naga" atau daerah pembawa keberuntungan yang berada di Jakarta Utara. Menurut fengsui yang menekankan keharmonisan kehidupan dengan alam yang terdiri atas lima unsur yaitu logam, air, kayu, api, dan tanah, maka kawasan Kelapa Gading ini dikatakan memenuhi keselarasan dengan lima unsur tersebut.

Dikatakan bahwa daerah “kepala naga” ini cocok untuk berusaha dan cocok pula untuk hunian. Jadi akan lebih baik bila rumah tinggal berada di kawasan tersebut, tempat usahanya juga di kawasan tersebut. Tidak perlu ke mana-mana, hoki akan datang sendiri. Dikatakan pula bahwa naga itu raja air (Hai Lung Wang) yang memang senang dengan air. Itulah sebabnya kawasan ini tidak akan bebas dari air.

Namun demikian, ditegaskan walaupun fengsui kawasan bagus, namun semua itu masih tegantung dari fengsui masing-masing rumah. Yang menarik, menurut keyakinannya, “kepala naga” di kawasan ini berumur 50 tahun sejak tahun 1975. Jadi hingga tahun 2025, hoki masih memayungi kawasan Kelapa Gading dan peruntungan di kawasan ini akan bergeser. Sebuah mitos yang menarik untuk dikaji secara ilmiah, mengapa “kepala naga” ini tidak selamanya kerasan berada di kawasan Kelapa Gading.

Drainase “benang kusut”

Sangat disayangkan, bahwa pengembangan Kelapa Gading yang hebat ini dan banyak mendapat pujian dari banyak pihak, ternyata memiliki kelemahan yang fatal, yaitu mengenai drainase dan tata air kawasannya yang “amburadul”.

Saluran drainase dan tata air kawasan Kelapa Gading boleh dibilang seperti “benang kusut”. Penyebabnya antara lain yaitu setiap pengembang membuat drainase sendiri-sendiri, banyak yang tidak menyambung antara drainase dari blok pengembang yang satu ke blok pengembang yang lain. Bahkan sering terjadi konflik antar pengembang, saluran drainase dari satu pengembang tidak boleh masuk ke saluran drainase pengembang yang lain.

Adakalanya terlihat saluran drainase yang buntu, airnya tidak mengalir kemana-mana, hitam bersampah dan bau menyengat. Adapula pengembang yang memiliki waduk pengendali banjir, namun yaitulah, waduk ini hanya diperuntukkan untuk dirinya sendiri. Drainase dari pengembang yang lain tidak boleh mengalirkan airnya ke waduk tersebut.

Jadi drainase “benang kusut” ini tentu saja tidak dapat mengatasi banjir, apalagi bila penyebab banjir ini datang bersamaan, yaitu banjir kiriman dari hulu, hujan setempat yang deras, dan pengaruh muka air Kali Sunter dan Kali Cakung yang berbalik akibat pasang laut di muaranya. Walaupun di setiap waduk terdapat pompa banjir yang memadai, tetap saja tidak mampu mengatasi banjir, apalagi seluruh darinase dan waduk hampir separohnya terisi oleh endapan lumpur dan sampah plastik.

Saya lantas berpikir, pantas saja “kepala naga” hanya kerasan sampai dengan tahun 2025 (tinggal 20 tahun lagi), sebab air permukaan di kawasan ini seperti comberan, di samping itu daya dukung dan daya tampung kawasan pun telah akan sedemikian menurun.

Satu visi pembangunan


Semoga saja fengsui Gedebage ini seperti Kelapa Gading karena sama-sama merupakan daerah yang tidak lepas dari unsur air, sehingga “kepala naga” juga akan senang berada di tempat ini. Namun perencanaan pembangunan Gedebage jangan sampai meniru Kelapa Gading, yaitu mengabaikan faktor air sebagai pembatas.

Diharapkan nantinya setiap blok pengembang di kawasan Gedebage ini tidak membangun sistem drainase bloknya sendiri-sendiri, yang tidak menyambung antara satu blok dan blok lainnya. Master plan yang sedang dibuat oleh konsultan harus dikaji benar, terutama menyangkut sistem drainase dan tata air di seluruh kawasan. Antara pengembang yang satu dengan pengembang yang lain jangan sampai terjadi konflik, saling tidak boleh dilalui saluran drainase dari pihak lain.

Konsep pengembangan kawasan di daerah dataran banjir mungkin dapat mengacu kepada “success story” yang telah dilakukan oleh negara lain, misalnya dengan konsep “polder” dari Negeri Belanda. “Polder” yaitu semacam sistem tertutup pengaturan tata air pengendalian banjir dan genangan yang kemudian airnya di pompa keluar. Jadi memang sekeliling kawasan ini dibuat tanggul membentuk “daerah tangkapan hujan buatan”, didalamnya ada waduk buatan penampung banjir yang airnya kemudian dipompa keluar dan bersatu ke saluran atau sungai yang akhirnya menuju sungai Citarum.

Jalan tol di selatan kawasan Gedebage dapat difungsikan sebagai tanggul selatan, tinggal memikirkan membangun tanggul kiri, kanan dan utaranya. Perlu diperhatikan ancanam air di tempat ini tidak hanya limpasan air dari arah utara dan juga hujan lokal di kawasan, tetapi juga termasuk ancaman air limbah yang kualitasnya sangat jelek dari kawasan industri yang terletak di utara Gedebage. Instalasi pengolah air limbah (IPAL) industri di utara Gedebage ini harus mendapat perhatian serius, agar air limbahnya tidak mencemari kawasan yang akan dikembangkan.

Kota Air dan Kota Hutan


Tidak berlebihan bila Gedebage ini kemudian menjelma menjadi kota air atau “waterfront city”. Kota Bandung berpeluang memiliki “superblock” kota satelit berwawasan tata air yang benar. Akses kemanapun juga mudah, karena dekat dengan jalan tol dan jalan kereta api.

Menurut informasi, sarana utama yang akan dibangun adalah waduk buatan. Lalu berapa luas waduk ini? Ada hitungan alam yang dapat dipakai sebagai pegangan. Pada saat banjir besar tahun 2001 yang lalu, luas kawasan yang tergenang di daerah ini mencapai 124 hektar. Angka 124 hektar itulah sebenarnya luasan yang dibutuhkan oleh air secara alamiah untuk tempat parkirnya. Jadi paling tidak waduk buatan yang akan dibangun juga seluas itu. Apakah waduk buatan ini tidak akan menyita lahan yang “hanya” tersedia 526.27 hektar. Tentunya pihak konsultan harus menghitung secara detil, berapa luas waduk buatan agar optimum.

Kalau waduk-waduk pengendali banjir di Kelapa Gading berisi air menggenang yang hijau kotor bersampah dan berbau menyengat, tentunya di Gedebage jangan meniru itu. Air waduk di Gedebage harus jernih sebagai bagian dari “waterfront city”. Dalam diskusi dengan para peneliti dari Pusat Litbang Permukiman dan Pusat Litbang Sumberdaya Air tentang penanggulangan banjir dan genangan kawasan Kelapa Gading di Jakarta, dikatakan bahwa konsep “polder” harus merupakan paket terpadu yang berwawasan lingkungan. Konsep “polder” paket terpadu ini adalah membangun saluran drainase dan tata air yang benar, disertai dengan membangun “taman tanaman air” untuk menjernihkan air buangan secara alami (self purification, eco-sanitary atau eco-san). Konsep “taman tanaman air” ini juga harus ditunjang dengan konsep hutan kota yang sempurna. Kalau Singapura memproklamirkan diri menjadi “jungle town” atau “kota hutan”, apa salahnya kalau ditiru. Bukan menjadi serakah bila kawasan Gedebage ini menyandang dua nama, “waterfront city” dan “jungle town”, tapi itulah “trend” yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Di samping itu, perilaku warga yang benar tehadap sampah, yaitu “reduce-reuse-recycle” juga merupakan andil besar dalam penyelamatan kawasan terhadap bahaya banjir. Jadi andaikan kawasan Gedebage akan dikembangkan dengan konsep “polder” dengan tata air yang sekasama, maka warga setempat nantinya harus memiliki motto: “one polder site, one comprehensive view, one shared vision, one overall planning, one integrated management” atau “satu tempat polder, satu pandangan menyeluruh, satu visi bersama, satu perencanaan paripurna, satu manajemen terpadu”. Saya percaya andaikan Gedebage dengan genesanya sebagai dataran banjir atau lahan basah ini memiliki fengsui seperti Kelapa Gading, maka “kepala naga” pembawa hoki akan tetap kerasan tinggal di Gedebage. Satu hal yang sangat prioritas dan prasyarat, bahwa pembangunan Gedebage ini jangan sampai merugikan rakyat setempat, jangan sampai menggusur rakyat setempat dengan semena-mena, sebaliknya rakyat setempat harus dapat diuntungkan, misalnya dibantu untuk dapat membangun perdesaan dengan konsep kearifan yang berwawasan air atau “desa air” yang disisipkan di dalam kawasan “elite” Gedebage.***

Penulis: Anggota Dewan Pakar, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS).

Read More..

Thursday, September 13, 2007

GUB. JABAR: MASYARAKAT BISA HUKUM PENGEMBANG

KOMPAS, Jawa Barat, 17 Mei 2004, k02
Foto: Sobirin, 2005, Perumahan Mewah di Kawasan Lindung


Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Sobirin, menilai pernyataan Gubernur Jawa Barat itu tidak menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai penguasa provinsi. Tidak mungkin menyuruh masyarakat melakukan unjuk rasa.




Bandung, Kompas - Menanggapi persoalan maraknya pengembang yang membuka lahan dan jalan di kawasan Dago Utara, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan meminta masyarakat dan pers "menghukum" para pengembang.

Berulang kali pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa kawasan Dago Utara merupakan wilayah Kabupaten Bandung.

Seiring dengan berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 (sekarang UU Nomor 32 Tahun 2004) tentang Otonomi Daerah, gubernur dan wali kota/bupati mempunyai kedudukan yang sejajar sehingga urusan di wilayah tertentu merupakan tanggung jawab kepala daerah yang bersangkutan.

"Jalan-jalan sudah banyak yang dibangun oleh pihak swasta. Masyarakat dan wartawan dong yang mulai menghukum pengembang. Saya ada di belakang masyarakat, bukan di belakang pengembang," ujar Danny.

Saat ini, lanjut Danny, proyek Jalan Dago-Lembang dalam tahap ke arah pengambilan keputusan dan tengah menunggu tanggapan masyarakat luas.

Tidak bertanggung jawab

Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Sobirin, menilai pernyataan Gubernur Jawa Barat itu tidak menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai penguasa provinsi.

"Kita memiliki UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Nasional (sekarang UU No 26 tahun 2007) yang menegaskan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten harus mengacu pada RTRW Provinsi, dan RTRW Provinsi harus mengacu pada RTRW Nasional, yang intinya demi pertahanan nasional dan kesejahteraan rakyat," papar Sobirin.

Sebenarnya, lanjut Sobirin, di dalam UU Otonomi juga dimungkinkan pemerintah provinsi turun tangan bila di wilayah perbatasan terjadi konflik. Apalagi kawasan Dago Utara merupakan kawasan lindung yang berguna untuk kemaslahatan masyarakat luas.

"Apabila gubernur merasa mempunyai kedudukan yang sama dengan bupati, bukankah mereka bisa duduk bersama untuk membicarakan masalah itu. Tidak mungkin menyuruh masyarakat melakukan unjuk rasa. Jadi, saran saya, pertama, gubernur melayangkan surat kepada Bupati Bandung soal ketegasan RTRW. Kedua, mereka duduk bersama mencari solusi," ujar Sobirin pula. (k02)

Read More..

RENDAH, PENGELOLAAN SAMPAH KOTA

Pikiran Rakyat, 08-11-2006, A-158, Digital Library Online
Foto: Dudi Sugandi, PR, 29-03-2005, Gunung Sampah Bandung

Anggota DPKLTS Supardiyono Sobirin menyatakan, masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam pengelolaan persampahan. ”Mereka bukan tidak aware, tapi tidak diajak. Harusnya diajak dengan konsep AIDA (Awareness, Interest, Decision, Action)”.




BANDUNG, (PR).- Tingkat pelayanan pengelolaan sampah perkotaan masih rendah. Berdasarkan data BPS terakhir, pada skala nasional baru 40,09% sampah yang diangkut petugas. Padahal, sebelumnya pernah menembus angka 50%.

Demikian diungkapkan Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) Departemen Pekerjaan Umum (PU) Ir. Susmono, pada acara Pelatihan Teknis Bidang PLP yang diikuti dinas terkait se-Jabar di Hotel Permata Bidakara Jln. Lemahnendeut No. 7 Setrasari, Kota Bandung, Selasa (7/11). Pada acara tersebut, turut menjadi pembicara Iwan Abdurrahman, Dajaan Imami S.H., M.H., Ir. Supardiyono Sobirin, Ir. Purwoko, Aam Amiruddin LC, dan Sunardhi Yogantara.

“Secara nasional, pelayanan persampahan dari publik cukup rendah. Namun, ada beberapa kota malah bagus pengelolaanya, seperti di Sragen,” kata Susmono.

Berdasarkan data Distarkim Jabar, pelayanan persampahan di hampiri seluruh kab./ kota kurang dari 50%. Hanya Kota Bogor, Kota Cirebon, dan Kab. Sukabumi yang tingkat pelayanannya mencapai 70%.

Pendanaan untuk pengelolaan sampah pada umumnya juga sangat minim, hanya 2%-4% dari APBD. “Sementara, untuk biaya operasional tidak bisa mengandalkan retribusi, sehingga kinerja lembaga pengelola rendah. Bahkan, secara nasional, dana yang dianggarkan untuk persampahan juga sangat terbatas, berkisar Rp 300 miliar-Rp 400 miliar per tahun,” ujarnya.


Akibat minimnya anggaran, 99 % kab./kota memilih sistem open dumping pada pengelolaan sampah dengan menekankan pada paradigma kumpul-angkut-buang. “Pendekatan baru yang harus dipahami, yaitu 3R, reduce-reuse-recycle. Hal itu memang bukan hal yang baru, tapi perlu diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan secara signifikan,” ujar Susmono.

Timpang


Sementara itu, budayawan Iwan Abdurachman menyatakan, masyarakat kini sudah terkotak-kotakkan, sehingga sistem pengelolaan sampah pun bekerja timpang. “Kesadaran satu tubuh sudah hilang sejak euforia otonomi daerah. Karena itu harus dihilangkan ego sektoral,” ucapnya.


Partisipasi masyarakat yang respek terhadap sistem, lanjut Iwan, menjadi kunci kebehasilan pengelolan sampah, termasuk sistemnya. “Respek terhadap sistem bukan hanya hormat, tapi perhatian yang sungguh-sungguh,” ungkapnya.

Senada dengan Iwan, pakar hukum lingkungan Dajaan Imami menyatakan, hukum lingkungan dan penatan ruang harus mengedepankan pencegahan daripada penanggulangan dan pemulihan lingkungan. Dengan menganut teori yang dikemukakan Mochtar Kusumaatmadja bahwa hukum harus berdiri di depan, menunjukkan arah bagi terselenggaranya pembangunan secara tertib dan teratur.


“Hukum lingkungan hidup tidak hanya melibatkan manusia sebagai subjek, tapi juga lingkungan. Ketika sudah memberi dan melayani manusia, maka lingkungan harus menerima haknya dengan per¬lakuan yang sesuai,” ujarnya.

Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Supardiyono Sobirin menyatakan, ma¬syarakat harus menjadi pelaku utama dalam pengelolaan persampahan.
”Mereka bukan jadi tidak aware, tapi tidak diajak. Harusnya apa yang disebut pemberdayaan harus benar-benar digalakkan, paling tidak masyarakat dapat diberdayakan dengan konsep AIDA (Awareness-Interest-Decision-Action)”. (A-158)

Read More..

MASTER PLAN ITU TETAP DILANGGAR.......

Pikiran Rakyat, 07-12-2006, Erwin
Foto: Harry Surjana, PR, 07-12-2006, Perumahan Elit Bandung Utara


"Tapi, master plan itu tetap saja dilanggar di lapangan. Sebab, sudah terjadi negosiasi antara pengembang dengan pemegang otoritas. Padahal untuk KBU, mutlak tidak boleh ada negosiasi," ujar Sobirin.



SOAL Kawasan Bandung Utara (KBU), anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Supardiyono Sobirin menegaskan, sebagai aspek legal, perda soal KBU sebelumnya sudah banyak dibuat. "Persoalannya, kok tidak bisa berjalan. Ada apa ini? Apakah penegakan hukum yang kurang atau konsep ekonomi yang lebih menarik," tuturnya bernada tanya.


Sobirin
pun menilai, pengembang selalu mengedepankan unsur 3-I, yakni iming-iming, intervensi, dan intimidasi. Di sisi lain, KBU adalah kawasan lindung yang mayoritas menjadi milik rakyat. "Nah, pengembang mengincar sekali, karena konsep ekonominya yang besar," ucapnya.


Dia heran, mengingat aturan tentang koefisien luas terbangun serta perbandingan antara yang boleh dibangun atau tidak, sebenarnya juga sudah terakomodasi pada perda sebelumnya. "Tapi, master plan itu tetap saja dilanggar di lapangan. Sebab, sudah terjadi negosiasi antara pengembang dengan pemegang otoritas. Padahal untuk KBU, mutlak tidak boleh ada negosiasi," ujar Sobirin.


**


NAMUN, ia tetap menyambut positif terhadap rencana penyusunan perda KBU oleh Pemprov Jabar. Sobirin sangat berharap perda tersebut nantinya benar-benar ditaati. Itulah sebabnya, dia menekankan adanya penjelasan detail dengan jenis sanksi bagi setiap pelanggaran. "Tapi, yang jauh lebih penting adalah komitmen, kesungguhan, dan keseriusan untuk menegakkannya," ucapnya.


Wilayah KBU berada di Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kab. Bandung. Yang masuk Kota Cimahi (2 kecamatan dan 8 kelurahan), Kota Bandung (3 kecamatan, 9 kelurahan, 11 desa), dan Kab. Bandung (9 kecamatan, 67 desa, 2 kelurahan). "Bagaimana melakukan langkah koordinatif dengan seluruh stakeholders di sana, juga menjadi pertanyaan. Implementasi di lapangan yang sarat konflik kepentingan, menjadi persoalan yang harus diselesaikan," katanya. (Erwin/"PR")***

Read More..

PENGHIJAUAN TIDAK SEKADAR MENANAM POHON

Pikiran Rakyat, 26 Februari 2007, Surat Pembaca
Iden Wildensyah
, Relawan Lingkungan

Foto: www.pemkot-malang.go.id, Gerakan Penghijauan


Penghijauan harus tetap dilaksanakan karena menurut Ir. Sobirin (DPKLTS), pohon adalah makhluk hidup yang tidak bisa berjalan tetapi memberikan peran yang signifikan bagi makhluk yang berjalan.



BULAN Februari hampir marak di Kota Bandung dengan kegiatan penghijauan. Sebuah kegiatan yang positif dalam mewujudkan Bandung sebagai kota yang hijau asri. Selain positif dalam meningkatkan cadangan air juga dalam menurunkan kadar polusi yang tinggi dari pencemaran udara yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor.


Namun adakalanya kegiatan penghijauan ini dilakukan temporer, cenderung insidental tanpa kegiatan lanjutan untuk mempertahankan pohon yang sudah ditanam. Hal ini menyebabkan pohon menjadi mati dalam sepekan setelah penanaman. Yang menggelitik di benak saya adalah penghijauan yang dilakukan dalam acara planosphere Sabtu 10 Februari 2007 di sepanjang Jalan Tamansari (dari Sabuga - Kebon Binatang), tanpa bermaksud mengesampingkan sisi positif dari kegiatan tersebut, rasanya sebelum melakukan penghijauan harus ditinjau dulu studi kelayakannya.

Dari pengalaman saya menanam pohon dengan penggarap di daerah Bandung Utara, pohon yang ditanam mempunyai jarak tertentu dengan pohon lainnya yaitu dalam kisaran 8-10 meter/ pohon. Hal ini ditujukan agar tidak terjadinya kerapatan pohon, terutama perkembangan dahan dan rantingnya tidak akan berebut ruang. Semakin rapat pohon juga akan menyebabkan persaingan untuk mendapat unsur hara semakin tinggi artinya akan ada pohon yang tidak akan bertahan.

Yang lucu lagi adalah, penghijauan di daerah yang sudah hijau, barangkali kalau saya boleh berpendapat, rasanya masih banyak lahan yang membutuhkan penghijauan seperti lahan-lahan di kawasan kritis, Punclut, Oray Tapa, Cikawari dan seputar kawasan Bandung selatan. Daerah kritis ini sangat penting dalam konservasi air di Cekungan Bandung.

Walaupun demikian penghijauan harus tetap dilaksanakan karena menurut Ir. Sobirin, dewan pakar DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), pohon adalah makhluk hidup yang tidak bisa berjalan tetapi memberikan peran yang signifikan bagi makhluk yang berjalan, beberapa fungsi pohon di atas tanah di antaranya adalah: (a) Menghasilkan oksigen 1,2 kg/pohon/hari, (b) Membuat teduh/sejuk, menyerap panas 8x lebih banyak, (c) Menjaga kelembaban, menguapkan 3/4 air hujan ke atmosfir, (d) Menyerap debu, (e) Mengundang burung (f) Membuat kindahan.

Sementara itu fungsi pohon di bawah tanah di antaranya adalah: (a) Menyerapkan air ke tanah, (b) Mengikat butir-butir tanah, (c) Mengikat air di pori tanah dengan kapilaritas dan tegakan permukaan.

Semoga masukan ini menjadi motivasi untuk terus melakukan penghijauan di daerah yang lebih membutuhkan.

Iden Wildensyah
Relawan Lingkungan
Jln. Banyumas No.10 Bandung
Telf.08170246890

Read More..

Wednesday, September 12, 2007

BANDUNG RESIDENTS PROTEST OVER HOTEL PROJECT

SP18, Bandung News, Friday 28 Jan 2005
Photo: Sobirin, 2005, Bandungers Protest over Punclut Project


“It’s a strange policy of a mayor to allow a conservation area to be developed instead of being rehabilitated,” Sobirin said.




Hundreds of Punclut residents, environmentalists and artists protested on the streets of Bandung on Thursday, rejecting the planned construction of a hotel and resort in Punclut, a water catchment area in North Bandung.

The protesters criticized Bandung Mayor Dada Rosada for issuing a permit for PT Dam Utama Sakti Prima (DUSP) to turn 60-hectare plot in Punclut into a tourism and business project. They said the permit violated regional regulations that designate Punclut as part of a water catchment, and could worsen floods during the rainy season and cause water shortages in the dry season.

A performing arts show kicked off the protest, the second such protest, and was followed by a speech in front of the Gedung Sate building, which houses the Bandung City Council and governor’s office.

Sobirin, an expert member from the Council of the Sunda Territory Environmental Observer who took part in the protest, criticized the mayor for issuing a permit at a time when many people were demanding stricter control of the North Bandung conservation area.

Moreover, he said the alleged construction of an access road by PT DUSP following the issuance of permit No. 593/01-DBM/05 on Jan. 12 was against local bylaw No. 2/2004 on Bandung’s spatial planning. Article 100 of the bylaw cites that no new road access is allowed in the Punclut area to maintain its green space.

“It’s a strange policy of a mayor to allow a conservation area to be developed instead of being rehabilitated,” Sobirin said.

PT DUSP president director Fandam Darmawan, on the sidelines of a seminar on Punclut organized by the Indonesian Geologists Association in West Java and Banten, told reporters that he only acted as executor of the permit.

He said that only 20 percent of the 60-hectare site would be developed, while the rest would remain a green area.

“If we (go on) with construction, we’d be helping to preserve water… we’ll build an environmentally friendly residential area that will be comfortable for its residents and local people in the vicinity,” Fandam said on Thursday.

He said the disadvantages did not outweigh the project’s advantages, and his company was just waiting for Bandung administration approval to start construction. He said that so far, no development had started apart from a regreening project in a hilly area.

Geologist Hardoyo Rajiwiryono disagreed with protesters, saying that based on the latest satellite image, Punclut was not the main water catchment, but a small one where construction should be allowed.

According to Bandung’s water resources office data, around 6,020 hectares of reservoirs, or around 70 percent of water catchments in North Bandung, had been damaged due to residential development.

Read More..

Sunday, September 09, 2007

WEST JAVA NEEDS 1.7B TREES FOR REFORESTATION

AccessMyLybrary, The America's Intelligence Wire
JAKARTA POST
, 03/03/2004, Yuli Tri Suwarni, National News

COPYRIGHT 2004 Financial Times Ltd, From Worldsources (English)

Photo: Sobirin 2005, No More Trees in West Java


Sobirin
, a researcher at the DPKLTS, said that at least 1.7 billion trees would be needed to restore the forests in West Java, which are continuing to disappear.


Activist from the Sunda Environmental Observation Board (DPKLTS), a non-governmental organization in West Java, said that based on satellite images, deforested areas in West Java reached more than 600,000 hectares in 2002, or about 75 percent of the total 800,000 hectares of forest area in the province.

Sobirin, a researcher at the DPKLTS, said that at least 1.7 billion trees would be needed to restore the forests in West Java, which are continuing to disappear.

Sobirin said the government repeatedly issued warnings to illegal loggers, and had also launched the Citarum Bergetar program to revitalize the Citarum River, one of the largest in Indonesia.

"Regulations and programs by the provincial government are only lip service and have yet to be implemented, because the government doesn't have the courage to enforce the law," he said.

Sobirin also criticized a lack of coordination among government agencies concerning environmental policies.

As an example, he cited the Jatigede Dam construction in Sumedang regency, where the resettlement and regional infrastructure ministry has insisted on the dam's construction to provide water to farmers along the north coast of West Java.

At the same time, the West Java Forestry Office has failed to conserve the forest along the Cimanuk River flow areas, which will supply water to the planned dam, making its construction useless.

"The main difficulty of reservoirs in West Java is the water supply, because river flow areas have been damaged and cannot provide water to the reservoirs. Why would they build more reservoirs if there is no water?" he said.

Due to deforestation, West Java has extensive erosion problems, with more than 33 million cubic meters of fertile earth from the highlands lost to erosion.

Deforestation has also contributed to water shortages during the dry season and flooding during the wet season.

Sobirin said West Java had a potential rainwater of 83 billion cubic meters per year. But due to severe damage to forests in the mountain areas, only about eight billion cubic meters is absorbed, leaving the rest to flow back into the sea.

The head of the West Java Forestry Office, Endang Supriadi, said the government recognized the urgency of dealing with deforestation in the province.

He said that in order to prevent further deforestation, the provincial government would prepare seedlings to regreen the forests.

Copyright 2004 JAKARTA POST all rights reserved as distributed by WorldSources, Inc. COPYRIGHT 2004 Financial Times Ltd.
URL: http://www.thejakartapost.com/

Read More..

Saturday, September 08, 2007

TIDAK SEMUA POHON PENEDUH AMAN

LINGKUNGAN HIDUP
KOMPAS
, Jawa Barat, 08-09-2007, MHF

Foto: Harry Surjana, PR, 26-09-2005, Pohon Tumbang di Kota Bandung

Tidak semua jenis pohon cocok dijadikan pohon peneduh di pinggir jalan. Beberapa di antaranya cenderung berbahaya bagi pengguna jalan, demikian kata Sobirin dari DPKLTS.



Isi:
1. Wawancara yang dimuat di Kompas Jawa Barat, 08-09-2007
2. Lampiran1: Wawancara lengkap Sobirin dengan Kompas
3. Lampiran 2: shoutbox dan email dari pak Yudi

Bandung, KOMPAS
- Tidak semua jenis pohon cocok dijadikan pohon peneduh di pinggir jalan. Beberapa di antaranya cenderung berbahaya bagi pengguna jalan.

Demikian dikatakan Sobirin dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Jumat (7/9). Ia mengatakan, memilih jenis pohon lindung atau pohon peneduh harus cermat.

“Ada pohon yang mudah tumbuh, rimbun daunnya, misalnya angsana (Pterocarpus Indicus). Pohon ini mampu menyerap timbal sampai 70%, tetapi mudah patah, apalagi ada hujan disertai angin”, ujarnya.

Menurut Sobirin, ada 14 hal yang menjadi pedoman memilih pohon peneduh, yaitu pohon harus bisa tumbuh pada tanah padat, akar tidak menonjol di permukaan tanah, tahan terhadap hembusan angin kuat, dahan dan ranting tidak mudah patah, tidak mudah tumbang, buah tidak besar, guguran daun sedikit, dan menyerap unsur-unsur pencemar udara dari kendaraan bermotor.

Syarat lainnya, lanjut Sobirin, pohon tidak rusak oleh pencemaran udara, mudah sembuh jika terluka karena benturan mobil, teduh tetapi tidak terlalu gelap, bisa cocok hidup dengan tanaman lain, bentuk pohon indah, dan serbuk sarinya tidak bersifat alergis.

Pohon tanjung

Menurut Sobirin, pohon tanjung yang banyak ditanam Pemerintah Kota Bandung merupakan pohon yang direkomendasikan sebagai pohon lindung perkotaan di hampir seluruh dunia.

Sebab, kata dia, bentuk pohon tanjung menarik, luas keteduhan mencapai 125 meter persegi, buah bisa dimakan sehingga menarik perhatian burung, serta umurnya bisa mencapai 100 tahun.

“Walaupun kemampuan pohon tanjung rendah dalam menyerap unsur pencemar timbal (Pb), tetapi pohon ini tidak mudah rusak oleh pencemaran udara”, paparnya.

Kalau ada pohon tanjung cepat tumbang, itu karena kesalahan kesalahan perawatan. Pohon disiksa, tidak diberi pupuk, perakaran tidak terawat, cabang dan ranting dibiarkan liar sehingga bebannya menjadi tidak seimbang dan berpotensi patah atau tumbang.

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung Yogi Supardjo mengatakan, untuk mengurangi beban pohon, pihaknya memangkas dahan dan ranting pohon secara bergilir. “Ada sekitar 200 pohon yang harus ditebang agar tidak membahayakan warga”, ujarnya. (MHF)



Lampiran 1:
Wawancara Sobirin dengan wartawan Harian Kompas (MH Faiq)
REVITALISASI POHON LINDUNG PERKOTAAN

Kompas: Bagaimana pendapat anda tentang kejadian tumbangnya pohon tanjung yang menelan korban jiwa tanggal 28/8-2007 yang lalu di Jl. Tamansari dekat Pasar Balubur?
Sobirin: Ketika mendengar pohon tanjung (Mimusops elengii) di Jl. Tamansari tumbang dan menelan korban, saya sangat terkejut. Rasanya saya mengenal pohon tersebut, karena sewaktu saya mahasiswa dan tinggal di asrama Villa Merah tahun1968, hampir tiap hari ketika rutin mencari makan di Pasar Balubur, saya selalu melewati pohon ini. Jadi umur pohon ini lebih dari 40 tahun-an.
Kejadian hari Selasa tanggal 28/8-2007 yang lalu, sewaktu cuaca cerah, tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba pohon yang masih berdaun hijau ini tumbang. Dengan tumbangnya pohon tanjung ini, adalah merupakan kejadian yang kesekian kalinya pohon di Kota Bandung yang seharusnya berfungsi lindung malah tumbang dan menelan korban.

Kompas: Apakah pohon tanjung cocok untuk pohon lindung perkotaan?
Sobirin: Pohon tanjung adalah jenis pohon yang sangat direkomendasikan sebagai pohon lindung perkotaan di hampir seluruh dunia yang iklimnya memungkinkan seperti di Indonesia.
Bentuk pohon tanjung cukup menarik, tinggi bisa mencapai 15 meter, ukuran daun sedang, luas keteduhan bisa mencapai 125 meter persegi, bunga kecil putih harum, buah kecil seukuran melinjo, bila masak berwarna jingga merah, dan bisa dimakan sehingga menarik perhatian burung-burung. Menurut penelitian, walaupan kemampuan pohon tanjung ini hanya rendah saja dalam menyerap bahan pencemar limbah timbal (Pb), namun pohon ini tidak mudah rusak oleh pencemaran udara.
Pohon tanjung bisa berumur panjang. Sebuah pohon tanjung yang tumbuh di halaman Monumen Nasional di Kuala Lumpur Malaysia disebutkan telah berumur sekitar 100 tahun-an. Di Malaysia pohon tanjung dianggap istimewa, bunganya dipilih sebagai salah satu “bunga kebangsaan” Persekutuan Tanah Melayu.

Kompas: Kalau yang ada di Malaysia bisa berumur sampai 100 tahun-an, mengapa yang ini baru berumur 40 tahun-an bisa tumbang?
Sobirin: Melihat keberadaannya, sepertinya pohon tanjung yang tumbang ini memang sakit berat. Perakarannya terlihat tidak baik, batang bagian bawah berwarna kehitaman, sebagian menampakkan permukaan kayunya karena kulit kayunya telah lama terkelupas. Nampak pula beberapa paku menghunjam di batang bawah pohon tanjung ini. Memang benar-benar tidak terawat!

Kompas: Bagaimana dengan pohon angsana yang terlihat rimbun hijau daunnya? Tentunya sangat cocok sebagai pohon peneduh kota.
Sobirin: Memilih jenis pohon lindung atau pohon peneduh perkotaan memang tidak boleh sembarangan. Ada pohon yang mudah tumbuh, rimbun daunnya, misalnya pohon angsana (Pterocarpus indicus), yang dikatakan mampu menyerap bahan pencemar timbal sampai 70 persen, tetapi sangat mudah patah apalagi kalau ada hujan disertai angin. Banyak diberitakan di banyak kota-kota besar antara lain di Jakarta, bahwa pohon angsana ini mudah tumbang dan menelan korban jiwa saat hujan angin. Di beberapa kota, pohon angsana ini banyak yang diganti dengan jenis pohon lain yang lebih kuat. Beberapa peneliti mengatakan bahwa pohon angsana ini kurang menarik perhatian burung.

Kompas: Apa saja sih persyaratan yang sebaiknya sebagai pedoman memilih pohon perkotaan?
Sobirin: Pohon perkotaan memang perlu persyaratan, secara umum antara lain: cepat tumbuh, tahan terhadap hama penyakit, berumur panjang, bentuknya indah, percabangan tumbuh teratur sesuai dengan ruang yang tersedia, kompatibel dengan tanaman lain, serbuk sarinya tidak bersifat alergis.
Khusus pohon peneduh jalan ada persyaratan khusus, antara lain: bisa tumbuh pada tanah padat, akar tidak menonjol di permukaan tanah, tahan terhadap hembusan angin kuat, dahan dan ranting tidak mudah patah, pohon tidak mudah tumbang, buah tidak besar, guguran daun sedikit, mampu menyerap unsur-unsur pencemar udara dari kendaraan bermotor, pohon tidak rusak oleh pencemaran udara, luka akibat benturan mobil mudah sembuh, cukup teduh tapi tidak terlalu gelap, kompatibel dengan tanaman lain, bentuk pohon secara keseluruhan indah, serbuk sarinya tidak bersifat alergis

Kompas: Lalu mengapa pohon-pohon diperkotaan banyak yang mati atau tumbang?
Sobirin: Saya sangat tidak menyalahkan pohonnya, tetapi memprihatinkan pemeliharaannya yang sangat minim atau bahkan tidak ada pemeliharan sama sekali. Kalaupun ada, pelaksanaan pemeliharaannya pun sembrono, sama sekali tidak mengantisipasi kemungkinan bahaya yang dapat terjadi. Misalnya, pohon dibiarkan bercabang banyak dengan beban daun yang tumbuh lebat sehingga berpotensi patah. Belum lagi diperparah oleh banyaknya akar yang terpotong akibat pembangunan selokan air, penanaman kabel dan pipa air, serta pembangunan trotoar yang asal gali sebagai dampak pembangunan yang sektoral. Bahkan banyak pohon yang sengaja dibunuh oleh oknum maupun warga karena ada kepentingan-kepentingan yang bersangkutan. Biasanya terjadi di depan toko dengan maksud untuk jalan mobil masuk ke halaman parkir toko.

Kompas: Bagaimana dasar-dasar pemeliharaan pohon perkotaan?
Sobirin: Pemeliharaan pohon perkotaan harus dilakukan secara kontinyu dengan empat langkah, yaitu:, memberi air sesuai kebutuhan (watering), memberi makanan yang sebaiknya dengan pupuk organik (feeding), memangkas ranting-ranting kering dan cabang yang membahayakan (pruning), menyemprot anti hama (spraying), sebaiknya juga jangan menggunakan pestisida kimia, tetapi gunakan pestisida organik.
Salah satu langkah saja tidak dilakukan, maka pohon perkotaan bisa tumbuh tidak teratur dan berpotensi membahayakan warga kota.

Kompas: Bagaimana sebaiknya perlakuan terhadap pohon-pohon yang tidak memenuhi persyaratan lindung?.
Sobirin: Perlu dilakukan inventarisasi dan pemeriksaan tentang kesehatan setiap pohon perkotaan. Pohon-pohon yang segera harus ditebang dan diganti yang baru adalah: pohon yang mati, yang membahayakan, condong ke jalan, saling berhimpitan, pohon terkena penyakit menular, pohon yang mengganggu jalur listrik dan telpon.

Kompas: Langkah-langkah terobosan apa yang seyogyanya dilakukan oleh pihak Pemerintah Kota Bandung?
Sobirin:
Pertama: Walaupun Kota Bandung masih sangat memerlukan banyak pohon, apalagi menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengamanatkan luas Ruang Terbuka Hijau hingga 30 persen dari total luas kota, tetapi untuk pohon yang membahayakan perlu segera diambil langkah-langkah seperlunya.
Kedua: Sebagai contoh, saya melihat di Jl. Ir. H. Juanda ada pohon damar (Agathis alba) yang agak condong ke jalan dan berpotensi membahayakan, segera untuk diambil tindakan sebelum musibah berikutnya datang. Selain itu masih banyak pohon-pohon sakit yang perlu mendapat perhatian semua pihak.
Ketiga: Sangat disarankan untuk segera dilakukan langkah-langkah terobosan oleh Pemkot Bandung dengan sisa anggaran tahun 2007 dan anggaran tahun 2008 yang akan datang, antara lain melakukan inventarisasi semua pohon perkotaan (terkait jenis, umur, tinggi dan kesehatannya).
Keempat: Bisa saja mencontoh negara atau kota yang maju seperti Singapura. Kota ini telah memiliki data base pohon perkotaan dan setiap pohon masing-masing memiliki kartu pohon untuk pengawasannya.
Kelima: Saya kira Pemkot Bandung pun mampu melakukan hal tersebut, asal dikombinasi dengan gerakan masyarakat dan gerakan kemitraan.

Kompas: Bisa disebutkan syarat-syarat yang lebih rinci dan jenis-jenis pohon perkotaan yang terkait?
Sobirin:
Pohon peneduh: ditanam berbaris pada jalur tanaman di sepanjang jalan, percabangan 2 meter di atas tanah, bentuk percabangan tidak merunduk, bermassa padat, jenis tanaman: Kiara payung (Filicium decipiens), Tanjung (Mimusops elengii), Angsana (Ptherocarphus indicus).
Pohon penyerap polusi udara: beberapa jenis pohon, perdu/semak, tidak mudah rusak atau mati terkena pencemaran udara, bermassa padat, jarak tanam rapat, jenis tanaman: Angsana (Ptherocarphus indicus), Akasia daun besar (Accasia mangium), Oleander (Nerium oleander), Bogenvil (Bougenvillea Sp), Teh-tehan pangkas (Acalypha sp).
Pohon penyerap kebisingan: beberapa jenis pohon, perdu/ semak, membentuk massa, berdaun padat, jenis tanaman: Kiara payung (Filicium decipiens), Tanjung (Mimusops elengii), Teh-tehan pangkas (Acalypha sp), Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis), Bogenvil (Bougenvillea sp), Oleander (Nerium oleander).
Pohon pemecah angin: tanaman tinggi, perdu/semak, tahan hembusan angin kuat, bermassa daun padat, ditanam berjajar atau membentuk massa, jarak tanam rapat, jenis tanaman: Kiara payung (Filicium decipiens), Tanjung (Mimusops elengii), Angsana (Ptherocarphus indicus), Cemara (Cassuarina equisetifolia), Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis).

Untuk detail dan jelasnya lagi berikut gambar dan sketsa dapat dibaca sebagai referensi: PEDOMAN PEMBANGUNAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KAWASAN PERKOTAAN yang disusun oleh Satuan Kerja Pembinaan Penataan Ruang Nasional, Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum.

Lampiran 2:
Masukan dalam Shout Box dari pak Yudi:
Saya sangat tertarik dengan artikel yang bapak buat.dan saya banyak belajar dari situ.menurut bapak pohon angsana cocok tidak dijadikan tanaman peneduh pinggir jalan yang dilihat dari batang ranting dan daunnya? Saya berharap
bapak bisa memberi penjelasannya ke e-mail saya (galanggang_ktr@yahoo.com).

Jawaban dalam Shout Box dari Sobirin:
Hallo pa Yudi, tentang angsana telah saya jawab melalui e-mail pa Yudi.. Semoga bermanfaat.

Isi e-mail dari Sobirin:
Pak Yudi,
Thanks sudah mampir ke blog saya, tentang pohon angsana (Ptherocarpus indicus), anatara lain adalah sbb:
Positif: mudah tumbuh, daun2 kecil menghijau rimbun, menyerap polutan udara terutama Pb (bisa sampai 70%)
Kelemahan: dahan dan ranting mudah patah terutama bila hujan angin, daun rontok secara musiman (rontoknya tidak seragam antara satu angsana dengan angasana lainnya lainnya, bahkan pas musim kemarau dimana kita perlu berteduh, banyak angsana yang rontok), kurang disenangi burung
Peluang: bila dipelihara dan dipangkas setiap saat (terutama pada dahan2 dan rantng yang berbahaya karena sangat rimbun), maka pohon angsana ini bisa berfungsi baik untuk pohon peneduh dan penyerap polutan.
Ancaman: bila dibiarkan liar tumbuh, pohon tumbuh semaunya, maka bisa mengancam pejalan kaki atau mereka yang berteduh terutama bila musim hujan, karena mudah patah atau bahkan tumbang. Di banyak kota besar pohon angsana diganti dengan pohon yang lebih kuat misalnya: kiara payung (Filicium decipiens), tanjung (Mimusops elengii).

Kelemahan di perkotaan kita ialah pemeliharaan pepohonan kota sangat minim. Paling tidak harus memenuhi 4 kegiatan yang menerus: watering, feeding, pruning, spraying.

Semoga bermanfaat/ salam Sobirin

Read More..

Monday, September 03, 2007

KETIKA POHON TAK LAGI MELINDUNGI

Tribun Jabar, 03 September 2007, Referat

Foto: Marsis Santoso, PR, 04 Oktober 2006, Pohon Tumbang

Oleh: Sobirin

Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba pohon tanjung yang masih berdaun hijau ini tumbang. Padahal pohon tanjung ini direkomendasikan sebagai pohon lindung perkotaan.


Kejadian hari Selasa tanggal 28 Agustus 2007 yang lalu, ketika pohon tanjung (Mimusops elengii) di Jalan Tamansari Pasar Balubur tumbang, adalah kejadian kesekian kalinya pohon lindung di Kota Bandung yang seharusnya berfungsi lindung malah menelan korban.


Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba pohon tanjung yang masih berdaun hijau ini tumbang. Padahal pohon tanjung ini sangat direkomendasikan sebagai pohon lindung perkotaan di hampir seluruh dunia yang iklimnya memungkinkan seperti di Indonesia.

Bentuk pohon tanjung cukup menarik, tinggi bisa mencapai 15 meter, ukuran daun sedang, luas keteduhan bisa mencapai 125 meter persegi, bunga kecil putih harum, buah kecil seukuran melinjo, bila masak berwarna jingga merah, dan bisa dimakan sehingga menarik perhatian burung-burung. Menurut penelitian, walaupan kemampuan pohon tanjung ini hanya rendah saja dalam menyerap bahan pencemar limbah timbal (Pb), namun pohon ini tidak mudah rusak oleh pencemaran udara.

Pohon tanjung bisa berumur panjang. Sebuah pohon tanjung yang tumbuh di halaman Monumen Nasional di Kuala Lumpur Malaysia disebutkan telah berumur sekitar 100 tahun-an. Di Malaysia pohon tanjung dianggap istimewa, bunganya dipilih sebagai salah satu “bunga kebangsaan” Persekutuan Tanah Melayu.

Ketika mendengar pohon tanjung di Tamansari tumbang dan menelan korban, saya sangat terkejut. Rasanya saya mengenal pohon tersebut, karena sewaktu saya mahasiswa dan tinggal di asrama Villa Merah tahun1968, hampir tiap hari ketika rutin mencari makan di Pasar Balubur, saya selalu melewati pohon ini. Jadi umur pohon ini lebih dari 40 tahun-an. Kalau yang ada di Malaysia bisa berumur sampai 100 tahun-an, mengapa yang ini baru berumur 40 tahun-an bisa tumbang? Melihat keberadaannya, sepertinya pohon ini memang sakit berat. Perakarannya terlihat tidak baik, batang bagian bawah berwarna kehitaman, sebagian menampakkan permukaan kayunya karena kulit kayunya telah lama terkelupas. Nampak pula beberapa paku menghunjam di batang bawah pohon tanjung ini. Memang benar-benar tidak terawat!

Persyaratan pohon perkotaan

Memilih jenis pohon untuk kawasan perkotaan memang tidak boleh sembarangan. Ada pohon yang mudah tumbuh, rimbun daunnya, misalnya pohon angsana (Pterocarpus indicus), yang dikatakan mampu menyerap bahan pencemar timbal sampai 70 persen, tetapi sangat mudah patah apalagi kalau ada hujan disertai angin. Banyak diberitakan di banyak kota-kota besar antara lain di Jakarta, bahwa pohon angsana ini mudah tumbang dan menelan korban jiwa saat hujan angin. Di beberapa kota, pohon angsana ini banyak yang diganti dengan jenis pohon lain yang lebih kuat.

Pohon perkotaan memang perlu persyaratan, secara umum antara lain: cepat tumbuh, tahan terhadap hama penyakit, umur panjang, bentuk indah, tumbuh teratur sesuai dengan ruang yang ada, kompatibel dengan tanaman lain, serbuk sarinya tidak bersifat alergis.

Khusus pohon peneduh jalan ada persyaratan khusus, antara lain: bisa tumbuh pada tanah padat, tidak mempunyai akar menonjol di permukaan tanah, tahan terhadap hembusan angin kuat, dahan dan ranting tidak mudah patah, pohon tidak mudah tumbang, buah tidak besar, guguran daun sedikit, tahan terhadap pencemaran udara, luka akibat benturan mobil mudah sembuh, cukup teduh tapi tidak terlalu gelap, kompatibel dengan tanaman lain, bentuk pohon secara keseluruhan indah.

Saya sangat tidak menyalahkan pohonnya, tetapi memprihatinkan pemeliharaannya yang sangat minim atau bahkan tidak ada pemeliharan sama sekali. Kalaupun ada, pelaksanaan pemeliharaannya pun sembrono, sama sekali tidak mengantisipasi kemungkinan bahaya yang dapat terjadi. Misalnya, pohon dibiarkan bercabang banyak dengan beban daun yang tumbuh lebat sehingga berpotensi patah. Belum lagi diperparah oleh banyaknya akar yang terpotong akibat pembangunan selokan air, penanaman kabel dan pipa air, serta pembangunan trotoar yang asal gali sebagai dampak pembangunan yang sektoral.

Pemeliharaan pohon perkotaan harus dilakukan secara kontinyu dengan empat langkah, yaitu memberi air sesuai kebutuhan (watering), memberi makanan yang sebaiknya dengan pupuk organik (feeding), memangkas ranting-ranting kering dan cabang yang membahayakan (pruning), dan menyemprot anti hama (spraying). Salah satu langkah saja tidak dilakukan, maka pohon perkotaan bisa tumbuh tidak teratur dan berpotensi membahayakan warga kota.

Pohon-pohon yang segera harus ditebang dan diganti yang baru adalah pohon yang mati, yang membahayakan, saling berhimpitan, pohon terkena penyakit menular, pohon yang mengganggu jalur listrik dan telpon. Walaupun Kota Bandung masih sangat memerlukan banyak pohon, apalagi menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengamanatkan luas Ruang Terbuka Hijau hingga 30 persen dari total luas kota, tetapi untuk pohon yang membahayakan perlu segera diambil langkah-langkah seperlunya. Sebagai contoh, saya melihat di Jl. Ir. H. Juanda ada pohon damar (Agathis alba) yang agak condong ke jalan dan berpotensi membahayakan, segera untuk diambil tindakan sebelum musibah berikutnya datang. Selain itu masih banyak pohon-pohon sakit yang perlu mendapat perhatian semua pihak.

Sangat disarankan untuk segera dilakukan langkah-langkah terobosan oleh Pemkot Bandung dengan sisa anggaran tahun 2007 dan anggaran tahun 2008 yang akan datang, antara lain melakukan inventarisasi semua pohon perkotaan (terkait jenis, umur, tinggi dan kesehatannya). Singapura telah memiliki data base pohon perkotaan dan setiap pohon masing-masing memiliki kartu pohon untuk pengawasannya. Saya kira Pemkot Bandung pun mampu melakukan hal tersebut, asal dikombinasi dengan gerakan masyarakat dan gerakan kemitraan.

Penulis: Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS).

Read More..