Friday, February 22, 2008

"SAY NO TO PLASTICS!"

Pikiran Rakyat, Kampus, 14-02-2008, Agus Rakasiwi
Gambar: www.wildberrys.org.uk, Say No To Palstic

Anggota DPKLTS, Supardiyono Sobirin, menulis, jumlah sampah plastik di Bandung bisa menutupi 50 lapangan sepak bola. Total sampah Kota Bandung menghasilkan 6.000 m3 per hari, dan 5 persennya merupakan sampah plastik.




PERNAHKAH di suatu hari kawan tidak menggunakan benda bernama plastik? Jika tidak, kawan secara tidak langsung ikut dalam program yang baik untuk lingkungan hidup kita di masa mendatang.

Jika sebaliknya, artinya dalam setiap hari hidup kita tidak terlepas dari menggunakan plastik, mungkin sedari dini kawan mau ikut berpartisipasi dalam kegiatan mengurangi penggunaan plastik. Inilah pesan yang disampaikan kawan-kawan dari Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan(HMTL) ITB pada 9 Februari lalu.


Pada hari itu, sepanjang Jalan Ganesha didesain dengan ragam media publikasi yang berkaitan tentang bahan plastik. Bahkan, pada saat pembukaan, civitas academica ITB, siswa SD sampai SMA turun ke jalan dalam rangkaian aksi "Plastic Phobia".

Aksi ini menjadi penutup rangkaian acara "Anti-Plastic Bags Campaign" (APBC) yang diselenggarakan 5-9 Februari 2008.

Rangkaian kampanye terdiri dari Lomba Desain Tas dan 1.000 Puisi Sampah Anak Indonesia.
Jargon "Say No to Plastic Bags" berkaca pada fenomena yang mengejutkan dari konsumsi plastik dan ekses yang ditimbulkannya.

Kawan-kawan dari HMTL ITB memperkirakan ada 500 juta sampai 1 miliar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun atau 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun dan 14 juta pohon ditebang.


"Artinya, secara tidak langsung plastik memengaruhi perubahan iklim di dunia," ujar Ruhimat, aktivis Yayasan Pelangi Indonesia. Organisasi ini merupakan salah satu partisipan dalam acara tersebut, selain Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Greenpeace Indonesia, dan WWF.


Ketua Panitia APBC, Cinta Azwiendasari mengatakan secara tidak langsung penggunaan plastik memperburuk global warming karena kurangnya pohon sebagai paru-paru bumi yang dapat menyerap emisi gas rumah kaca.

Selain pembuatannya saja sudah masalah, dampak dari sampah plastik yang menggunung di tempat sampah juga menjadi masalah baru.


Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Supardiyono Sobirin, menulis, jumlah sampah plastik di Bandung bisa menutupi 50 lapangan sepak bola. Total sampah Kota Bandung menghasilkan 6.000 m3 per hari, dan 5 persennya merupakan sampah plastik.


Di zaman dulu, orang sering membakar sampah rumah tangga mereka. Akan tetapi, kalau plastik ikut dibakar, senyawa karbondioksida dan metan akan terlepas ke udara, menjadi polusi. Udara yang tercemar itu dapat menimbulkan penyakit saluran pernapasan pada orang di sekeliling.


Penimbunan plastik dalam tanah juga tidak menyelesaikan masalah pencemaran. Hal itu karena bahan baku plastik yang banyak diproduksi masih menggunakan polyethylene (PE), polypropylene (PP), polystyrene (PS), dan polyvinyl chloride (PVC resin). Konon, bahan kimia itu sulit dipisahkan atau diasimilasi oleh bakteri dekomposer.

Merunut kompleksnya masalah dari plastik, apakah bisa dikurangi? "Tentu saja tidak bisa secepat itu. Kampanyenya harus mulai dari kesadaran sendiri," ujar Burhan, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa U-Green ITB.

Caranya, mulai dari mengurangi penggunaan plastik untuk barang-barang bawaan yang kecil dan kalau bisa menggunakan kembali benda tersebut untuk keperluan lain.

Misalnya, daur ulang sampah plastik menjadi tas keranjang.
Hal ini memang sulit, tetapi kapan saja kawan mau mulai, berarti makin memperpanjang usia bumi yang kita tempati.***
agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com

No comments: