Saturday, February 09, 2008

WARGA DIMINTA BELANJA PAKAI TAS KAIN

KRISIS SAMPAH PLASTIK
detikBandung
, 04/02/2008, Pratiwi Ester Novita Manik

Foto: www.midamericanenergy.com

Anggota DPKLTS Sobirin, mengemukakan data sampah Bandung yang mencengangkan. "Per hari kota Bandung menghasilkan 6.000 m3 sampah. Berat total sampah setara seribu ekor gajah, plastiknya bisa menutupi 50 lapangan bola," ujar Sobirin.



detikBandung - "We can save our nature, even when we're shopping". Tagline inilah yang diangkat oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB untuk mengadakan aksi Anti Plastic Bag Campaign (APBC). Dalam kampanye anti plastik ini, masyarakat dianjurkan untuk membawa tas khusus setiap berbelanja. Sehingga penggunaan kresek tidak lagi diperlukan untuk mengurangi sampah kantong plastik.

Ketua Panitia APBC, Cinta Azwiendasari, mengemukakan bahwa aksi ini baru awal dari target jangka panjang. "Mungkin ini baru langkah awal saja. Jadi meski mungkin belum ada hasil dalam jangka pendek, kita harapkan dari langkah awal ini dalam 5 tahun mendatang sudah tidak ada lagi sampah kantong plastik," ujar Cinta dalam konferensi pers Anti Plastic Bag Campaign (APBC), Kampus ITB Jl. Ganesha, Senin (4/2/2008).

Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Supardiyono Sobirin, mengemukakan data statistik sampah Bandung yang mencengangkan. "Per hari kota Bandung menghasilkan 6.000 m3 sampah. Sebanyak 65 persennya merupakan organik, sisanya non organik. Sebanyak 5 persen dari sampah non organik itu merupakan sampah kantong plastik. Berat total sampahnya setara seribu ekor gajah dan plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak bola," ujar Sobirin.

Pernyataan itu diperkuat Dosen Program Studi Teknik Lingkungan ITB, M. Chairul. Menilik dari kejadian longsor di Leuwi Gajah tahun 2005, sampah yang longsor didominasi oleh sampah plastik. "Dari sisa longsor, itu isinya didominasi oleh sampah plastik. Bukti nyata bahwa sampah yang sejak 30 tahun sudah didominasi oleh sampah plastik, khususnya kantong plastik," ujar Chairul.

Aksi ini sangat disambut baik tidak hanya dari kalangan mahasiswa dan pakar. Kalangan public figure juga menyatakan dukungannya, seperti penulis sekaligus penyanyi Dewi Lestari. "Kehadiran saya di sini juga untuk menyatakan dukungan saya pada aksi ini. Karena menurut saya masalah lingkungan memang sudah sangat urgent," ungkap Dewi yang berpakaian serba abu. (twi / ern)

No comments: