Wednesday, September 19, 2007

BABAKAN SILIWANGI LEBIH COCOK HUTAN KOTA

KOMPAS, 06-11-2004, Nusantara, j15
Foto: Sobirin 2004, Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi


Ketika ditanyakan rencana yang cocok untuk Babakan Siliwangi, Sobirin (DPKLTS) dengan spontan menjawab daerah itu paling cocok untuk hutan kota.




SENIMAN Tisna Sanjaya sungguh tak habis pikir. Pada 5 Februari 2004, karya seninya yang berjudul Special Prayer for The Death dibakar oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung. Delapan bulan kemudian, tepatnya 15 Oktober 2004, tempat memamerkan karya seninya, yaitu Babakan Siliwangi, terbakar pula.


APAKAH kebakaran di bekas restoran yang terletak di Jalan Siliwangi itu disengaja? Bagi Tisna dan teman-teman seniman lain memang terlintas rasa curiga bahwa ada pihak-pihak yang ingin memusnahkan Babakan Siliwangi.


Banyak kalangan yang menyangsikan dugaan bahwa kebakaran disebabkan hubungan listrik arus pendek. Ketua Bandung Art Project, Yana Purakusuma, mengemukakan bahwa pada bangunan tersebut tidak terdapat jaringan listrik.


Apalagi di sela-sela aktivitasnya di Babakan Siliwangi, Yana sempat melihat seseorang yang mencurigakan setengah jam sebelum peristiwa kebakaran terjadi. Orang itu berpakaian rapi dan sedang memotret ketika Yana hendak mendatanginya. Anehnya waktu didekati, orang itu masuk ke dalam mobil Daihatsu Taft berwarna hitam dan langsung tancap gas.


Ketua Sanggar Olah Seni (SOS) Tomi Dermawan menyebutkan, ada seseorang yang melempar sesuatu ke bangunan Babakan Siliwangi. Keyakinan Tomi itu didasarkan pengamatannya disertai keterangan yang dia himpun dari orang-orang yang beraktivitas di Babakan Siliwangi.


Kecurigaan kalangan seniman itu mengingat dua tahun yang lalu beredar isu di Babakan Siliwangi akan dibangun kondominium dan mal. Para seniman berupaya menghalangi niat Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dengan melakukan berbagai pementasan seni atau sekadar berkumpul di Babakan Siliwangi.


TISNA Sanjaya sama sekali tidak mengharapkan di Babakan Siliwangi akan didirikan bangunan, tidak juga galeri seni. Itu biasanya hanya jadi dalih Pemkot Bandung untuk membuat bangunan lain yang bakal menambah kesemrawutan sosial maupun lingkungan, misalnya pasar swalayan, factory outlet.


"Kami kaum seniman sudah muak pada pola-pola pembangunan seenaknya seperti itu di Kota Bandung," ujar Tisna. Babakan Siliwangi, menurut Tisna, lebih cocok dijadikan ruang publik seperti hutan kota.


Lagi pula, sambungnya, Kota Bandung sudah memiliki banyak sekali ajang untuk berkesenian, seperti Gedung Rumentang Siang atau Dago Pakar. Belum lagi tempat-tempat khusus seperti Selasar Sunaryo dan Nyoman Nuarta New Art.


Kontribusi satu-satunya yang diharapkan para seniman, seandainya Babakan Siliwangi dijadikan hutan kota, daerah itu hendaknya dapat memberikan inspirasi.

Tisna berharap, Pemkot Bandung akan mendengarkan aspirasi kalangan seniman. Kebijakan yang dikeluarkan seharusnya didialogkan, jangan hanya dipertimbangkan dari satu sudut pandang saja.

Melalui diskusi, lanjut Tisna, bisa menjadi satu bentuk "perlawanan", sebab dengan diskusi akan ada transparansi. Dari situ masyarakat akan bisa melihat bila sampai terjadi kejanggalan atau penyimpangan. Bentuk "perlawanan" lainnya, yaitu menyalurkan aspirasi seniman melalui DPRD Jawa Barat.


Menurut Tisna, perjuangan kalangan seniman Bandung untuk mempertahankan Babakan Siliwangi sebagai hutan kota ini pada dasarnya juga mengacu pada prinsip-prinsip estetika.


PERNYATAAN senada diungkapkan oleh pakar lingkungan dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) S Sobirin. Ketika ditanyakan rencana yang cocok untuk Babakan Siliwangi, Sobirin dengan spontan menjawab daerah itu paling cocok untuk hutan kota.

Ia menyebutkan, luas ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung jauh dari memadai, hanya 167 hektar (ha). Adapun RTH yang dibutuhkan sedikitnya seluas 1.670 ha dari luas total Kota Bandung, 16.700 ha.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2003 tentang Hutan Kota. Dalam peraturan itu disebutkan, setiap kota harus memiliki hutan kota setidaknya seluas 10 persen dari luas kota itu.
(Catatan: dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luas RTH paling tidak 30% dari luas kota, sekitar 5.000 ha/ Sobirin)

"Ini kesempatan yang baik untuk menambah hutan kota karena kawasan hijau yang sudah ada pun pohonnya jarang-jarang. Idealnya, di Babakan Siliwangi harus ada 3.000 pohon. Tetapi, kalau ada 1.500 pohon saja saya sudah senang," ujar Sobirin.


Dengan hutan kota, panas sinar matahari dapat direduksi sebanyak 80 persen dan pasokan oksigen juga meningkat. Hutan kota, menurut Sobirin, diperlukan untuk estetika kota, kenyamanan penduduk, serta meningkatkan mutu lingkungan hidup.


Sekretaris Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) Dewan Perwakilan Daerah Jawa Barat, Tigor Sinaga, sepakat Babakan Siliwangi dijadikan hutan kota. Apalagi bila mengingat tingginya resistensi masyarakat terhadap pembangunan kondominium.
"Kami bahkan bersikeras supaya Babakan Siliwangi dijadikan hutan kota," ujar Tigor menegaskan.

Dibandingkan pembangunan kondominium atau mal, investasi sosial dari ruang publik untuk masyarakat akan jauh lebih menguntungkan. Selain meningkatkan sumber daya manusia, lanjut Tigor, ruang publik juga membentuk citra yang positif untuk Kota Bandung.


Tigor terakhir kali melihat Babakan Siliwangi Oktober 2003. Dalam pandangannya, Babakan Siliwangi lebih baik tidak dieksploitasi karena memiliki sejarah tersendiri. Sangat disayangkan apabila daerah yang memiliki kekhasan budaya Sunda itu digantikan dengan bangunan modern.


Menurut Tigor, konsep ideal untuk Babakan Siliwangi adalah tempat untuk berkumpul warga dengan fasilitas perpustakaan, ruang kesenian, lahan parkir, dan sebuah restoran. Komersialisasi untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD) boleh saja dilakukan asal tidak berlebihan.


Pembangunan kondominium, menurut Tigor, juga akan mengubah kontur tanah, tidak hanya di Babakan Siliwangi tetapi juga di sisi kanan kiri Jalan Siliwangi. Pada gilirannya, hal ini akan ikut mengubah tata lingkungan yang sudah sangat mengkhawatirkan.


REI Jabar sudah menyiapkan sebuah konsep RTH untuk Pemkot Bandung. Menjadikan Babakan Siliwangi sebagai RTH, demikian Tigor, adalah hal yang tidak bisa dikompromikan lagi. (j15)

1 comment:

mustar said...

Pak Sobirin, saya warga Kelurahan Lebak Siliwangi, di mana Babakan Siliwangi berada. Menurut saya, bukan hanya Babakan Siliwangi yang harus kita kritisi, tetapi keberadaan Sabuga juga harus mendapat sorotan. Kami adalah warga yang dirugikan oleh keberadaan Sabuga. Anak sungai Cikapundung (sungai Cikapayang) adalah mengalir melewati Kebun Binatang kemudian mengalir di wilayah RW kami (08, 07, 06 dan 05). Saat ini airnya tidak mengalir sebagaimana mestinya, oleh karena itu kami sering melakukan pembersihan dan pengerukan di sekitar reservoir PDAM di depan Sabuga, tetapi kami tidak bisa melakukan pembersihan sampah dan endapan yang melewati halaman parkir sabuga, karena tertutup beton yang dibuat oleh sabuga. Karena itu hingga saat ini air di sungai Cikapayang tidak mengalir. Hal ini menyebabkan sungai menjadi bau dan banyak nyamuk. Jika bapak punya waktu, barangkali dapat menyempatkan diri melihat kondisi sungai Cikapayang di RW 07 Kel. Lebak Siliwangi. Terima kasih. MUSTAR, Jl. Tamansari RT. 04 RW. 07 Lebak Siliwangi Kota Bandung (08156017077).