Thursday, May 03, 2007

2008, TEGALLEGA JADI HUTAN PLUS


Kompas Jawa Barat, 27 April 2006
Foto: Ibnu Sofwan, Pikiran Rakyat, 16 Mei 2005, Taman Tegallega, Bandung
Perhatikan Kawasan Bandung Utara
"Saya khawatir orang-orang fokus bahwa Tegallega sukses, dan menutup mata mengenai daerah yang semestinya menjadi hutan kota," kata Sobirin.

Bandung, Kompas-
Pemerintah Kota Bandung memproyeksikan kawasan Tegallega sebagai hutan kota. Bahkan, tahun 2008 kawasan Tegallega dicanangkan akan menjadi hutan kota plus yang dilengkapi dengan dua kolam renang, perpustakaan, ruang pertunjukan teater, dan air mancur.

"Saat ini kami tengah merancang detail engineering-nya. Semoga akhir tahun ini selesai, dan tahun 2008 hasilnya sudah dapat di- nikmati warga Bandung," kata Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung Taufik Rachman di Bandung, Rabu (26/4).

Menurut Kepala Dinas Tata Kota Bandung Juniarso Ridwan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung telah berhasil mengubah wajah kawasan Tegallega yang kumuh menjadi hutan kota yang menarik. Ridwan mengungkapkan, warga Kota Bandung telah menganggap Tegallega sebagi bagian dari miliknya. Oleh karena itu, ketika ada pohon di Tegallega yang tumbang akibat hujan, beberapa warga Bandung prihatin. "Ini cermin warga merasa memiliki Tegallega," ujarnya.

Awal tahun 2000, kawasan Tegallega yang memiliki luas 17 hektar hanya ditumbuhi rumput liar dan ilalang. Siang hari, pedagang kaki lima (PKL) berdesakkan menjajakan dagangannya. Sampah terserak di mana-mana. "Dulu jarang ada orang yang berani masuk lebih jauh ke Lapangan Tegallega. PKL paling berjualan di dekat jalan, soalnya gelap dan angker," ungkap Dede Abun (30), yang telah 12 tahun menjadi pedagang asongan di Tegallega. Sementara di malam hari, kawasan Tegallega menjadi arena transaksi seksual. Pekerja seks komersial (PSK) menunggu pelanggan di sepanjang kawasan itu. "Dulu, kalau ada teman yang bilang baru datang dari Tegallega, kita paham apa maksudnya, pasti habis dari PSK," kata Udin (56), warga Dayeuhkolot.

Tegallega kini berubah. Pohon-pohon rindang usia satu tahun hingga puluhan tahun tumbuh di hamparan Lapangan Tegallega. Warga yang datang ke sana bukan lagi untuk bertransaksi seksual, melainkan rekreasi atau sekadar berteduh di bawah pohon rindang. "Saya merasa sejuk dan tenang kalau berada di sini," kata Oey Djoeek (72), warga Pagarsih yang tengah jalan-jalan di Tegallega.
Meskipun tidak seramai dulu, puluhan PKL tetap berjualan di Tegallega. Dan, PSK pun masih terlihat menunggu pelanggan di malam hari terutama di Jalan M Toha. "Kalau PSK memang masih ada satu dua di sini," kata Dede.

Biaya
Untuk mengubah kawasan Tegallega menjadi seperti sekarang, ratusan juta bahkan miliar telah dikeluarkan oleh Pemkot Bandung. Untuk penghijauan setidaknya menghabiskan dana Rp 1 miliar. Guna perbaikan jalan dikeluarkan dana Rp 900 juta. Dana ini sumbangan dari pemerintah pusat. Sementara untuk perbaikan lahan parkir dikeluarkan anggaran sebesar Rp 1 miliar, sumbangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Adapun biaya pemeliharaan setiap bulan menghabiskan Rp 100 juta.

Untuk memperindah wajah Tegallega, Pemkot Bandung berencana me- rekonstruksi Monumen Bandung Lautan Api.
Sebab, dengan kondisinya saat ini, monumen setinggi 15 meter ini dikhawatirkan akan "tenggelam" di antara rimbunnya pepohonan. "Kan jadi enggak menarik kalau Monumen Bandung Lautan Api malah tidak kelihatan," ujar Taufik.

Jangan lupa
Sementara itu, Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Supardiyono Sobirin mengingatkan, pembangunan Tegallega layak mendapat pujian. Namun, masyarakat jangan terlena dengan hanya melihat Tegallega. Sebab, penghijauan di Tegallega tidak akan menyelesaikan masalah lingkungan Kota Bandung. "Sebab, yang mestinya diutamakan adalah daerah-daerah penyangga di kawasan Bandung bagian utara, seperti Dago, Cimenyan, dan Punclut, yang merupakan rangkaian utama benteng bagi Kota Bandung. Resapan air dan air tanah amat tergantung tempat-tempat itu," kata Sobirin.

Sobirin menjelaskan, saat ini ada kecenderungan mengalihfungsikan kawasan Bandung utara menjadi kawasan komersial.
"Saya khawatir orang-orang fokus bahwa Tegallega sukses, dan menutup mata mengenai daerah yang semestinya menjadi hutan kota," kata Sobirin. (MHF)

No comments: