Friday, May 04, 2007

MENUNGGU TENGGELAMNYA MAKAM PRABU ANGLING DARMA


KORAN TEMPO, Rabu, 17 Maret 2004

Foto: Sobirin, 2004, Salah satu situs yang bakal digenangi waduk Jatigede
Nusa

Yang diperlukan sebenarnya cukup menggelar program reboisasi di kawasan hutan lindung dan daerah aliran Sungai Cimanuk. "Biayanya jelas jauh lebih murah dibanding membangun waduk," kata Sobirin.

Desir angin mencumbu dedaunan jati dan bambu di hutan Curug Emas, Desa Sukakersa, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Desir angin mencumbu dedaunan jati dan bambu di hutan Curug Emas, Desa Sukakersa, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Suasananya begitu syahdu, ditimpali debur air Sungai Cimanuk yang kuning-kecokelatan, yang mengalir deras berkelak-kelok, sampai jauh.

Di kawasan itu, di bawah kerindangan pohon bambu, jati, dan kemuning, terdapat dua makam berkeramik putih. Warga setempat percaya, di situlah bersemayam jasad Prabu Angling Darma dan Embah Dalem Panungtung Haji Putih Sungklanglanang--sebagaimana tertera pada dua penanda kayu yang terpancang di atasnya.

Dalam cerita Jawa, Angling Darma adalah penguasa Kerajaan Malawapati di Jawa Timur. Adapun buat masyarakat Sunda, nama yang sama ditemukan dalam Wawacan Angling Darma. Kisah raja yang bijak ini--meski ada yang menyebutnya sebagai mitos belaka--bisa disaksikan dalam sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta.

Sementara itu, Dalem Panungtung, jika ditilik dari gelarnya yang Haji Putih, bisa jadi merupakan salah satu raja dari Kerajaan Tembong Agung--cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang yang didirikan Taji Malela. Pendapat ini diungkapkan Nina Herlina Lubis, ahli sejarah Sunda dari Universitas Padjadjaran, Bandung.

Namun, sejarah ini sedang di ambang tenggelam. Tenggelam dalam arti sebenarnya. Karena persis di area itulah Waduk Jatigede, Sumedang, dirancang akan dibangun.

Yang terancam bukan hanya makam Sang Prabu. Sebuah tempat lain di Dusun Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja, Sumedang, yang juga diyakini punya nilai historis, pun akan mengalami nasib serupa. Ditandai dengan sebatang pohon kiara berdiameter dua meter yang berdiri di salah satu pojok dusun, warga setempat percaya di situlah dulu bertempat alun-alun Kerajaan Tembong Agung.

Tak hanya itu, di luar itu masih banyak situs lain yang terancam nasibnya. Menurut Nina Herlina, yang juga Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, setidaknya ada lima kelompok besar situs yang juga akan lenyap tersapu air: Astana Gede, Astana Cipeeut, Cicanting, Bengkok, dan Paniis. Sekadar contoh, di Astana Gede terdapat makam Ratna Inten dan Eyang Wulan, yang tak lain adalah Prabu Siliwangi, raja masyhur Kerajaan Sunda.

Kekhawatiran-kekhawatiran itulah yang membuat sebagian warga kini gencar menentang rencana pembangunan Waduk Jatigede. "Kami tak akan pernah lelah menyuarakan penolakan pembangunan Waduk Jatigede," kata Kusnadi Tjandrawiguna, Ketua Forum Komunikasi Rakyat Jatigede.

Penyelamatan sejarah Sumedang hanya merupakan satu alasan penolakan. Ada juga sejumlah alasan lain. Wawan, 44 tahun, warga Desa Jemah, Jatigede, misalnya, merasa waswas soal labilnya tanah setempat. Ia mencontohkan, sebelum waduk dibangun, telah terjadi longsor di Cisampih beberapa bulan lalu yang mengancam kehidupan 300 keluarga.

Jika pembangunan jalan terus dan tanah dipaksa menahan beban miliaran meter kubik air, ia khawatir labilnya tanah di daerah ini bisa memunculkan gempa bias dangkal. Bila itu terjadi, jelas akan membahayakan warga yang tinggal di sekitar waduk. Kekhawatiran itu diungkapkan dua geolog Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Sobirin dan Soewarno Darsoprajitno.

Selain soal tanah labil, mereka menilai, pembangunan waduk tidaklah perlu. Yang diperlukan sebenarnya cukup menggelar program reboisasi di kawasan hutan lindung dan daerah aliran Sungai Cimanuk. "Biayanya jelas jauh lebih murah dibanding membangun waduk," kata Sobirin.

Pertanyaannya kini, apakah suara-suara risau itu bakal membuat Pemerintah Daerah Jawa Barat berpikir ulang untuk meneruskan proyek Jatigede? Jawabannya belum jelas benar. Namun, satu hal sudahlah pasti. Jika rencana proyek tak lagi bisa dibendung, bagi mereka yang ingin mempelajari dari dekat sejarah makam Prabu Angling Darma, silakan menyelam dulu ke dasar waduk. dwi wiyana

4 comments:

Kang Moen said...

YA saya setuju kajian tentang pembangunan waduk jati gede harus dikaji ulang ,karena banyak titinggal karuhun yang akan tenggelam.Ingat bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para karuhun.Ingat kl ga ada karuhun mungkin kita ga akan ada.ingat itu....

krrish said...

Klau emang sperti itu terjadi berarti pemerintah skarng tdk menghargai para raja jaman dulu yang seharus nya di beri tempat yang layak sbagai Prbu dan hukum karma akan terjadi

Hdry said...

mungkin itu slh satu penyebab pemerintahan sby slama 10 tahun hasil ya nol besar,malah bencana di mana mana

rahmat zns21 said...

Lamun abdi mah lamun eta situs sejarah kudu di tenggeuleumkeun keun bisi sieun kualat ka hareupna,pamerentah kab sumedang sok pikirkeun lamun eta situs sejarah di tenggeuleumkeun teu sieun bisi kualat