Thursday, July 31, 2008

WARGA HARUS MEMBUDAYAKAN PANEN AIR HUJAN

KONDISI AIR KOTA BANDUNG MENGKHAWATIRKAN
KOMPAS, Jawa Barat, 29 Juli 2008, MHF
Foto: www.espirituswater.com, Rain Harvesting Installation
Secara terpisah, anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Sobirin, menjelaskan, pasokan air untuk warga Kota Bandung idealnya mencapai 200 liter per hari per orang. Saat ini baru tersedia 45 liter per hari per orang.



Bandung, KOMPAS - Kondisi air bersih di Kota Bandung makin mengkhawatirkan seiring dengan terus berlangsungnya kerusakan lingkungan di wilayah tangkapan air. Saat kemarau seperti sekarang ini, banyak warga kota menderita karena kesulitan mendapatkan air bersih.


Warga di Kelurahan Cisaranten Kulon dan Dungus Cariang, misalnya, selama sebulan terakhir kesulitan mendapatkan air sehingga terpaksa membeli air jeriken. "Sumur di rumah sudah dua bulan ini tidak keluar air. Pokoknya setiap kemarau pasti kering," kata Sutarya (45), warga Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik.

Hal serupa dialami Yayah Rokayah (52), warga Dungus Cariang, Kecamatan Andir. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, dia membeli air jeriken. Dalam sehari, paling tidak Yayah harus mengeluarkan uang Rp 5.000 untuk membeli 125 liter air.


Koordinator Kelompok Kerja Komunikasi Air Dine Andriani mengatakan, sebenarnya Kota Bandung mampu menyediakan pasokan air sepanjang tahun. Namun, saat ini air sulit didapatkan pada musim kemarau karena lingkungan telah rusak.


Daerah tangkapan air, seperti kawasan Bandung utara, telah banyak beralih fungsi sebagai hunian. Di sana berdiri beragam bangunan permanen, seperti hotel, cottage, vila, restoran, dan kafe. Ini menyebabkan berkurangnya kawasan hutan sehingga alam tidak seimbang.


Ini, kata Dine, diperparah dengan perilaku masyarakat yang mengambil air secara berlebihan. Banyak mal dan hotel di tengah kota mengonsumsi air tanah dalam jumlah melimpah. Selain mengurangi pasokan air sumur untuk masyarakat kelas bawah, pengambilan air ini juga menyebabkan permukaan air tanah menurun hingga 2,43 meter.

Secara terpisah, anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Sobirin, menjelaskan, pasokan air untuk warga Kota Bandung idealnya mencapai 200 liter per hari per orang. Saat ini baru tersedia 45 liter per hari per orang.


Sobirin setuju bahwa penyebab krisis air adalah kerusakan lingkungan. Debit 77 mata air di Kota Bandung berkurang. Bahkan ada yang tidak lagi mengeluarkan air karena daerah aliran sungai telah gundul.


Sumur bor sebagai solusi pemenuhan air bersih juga menimbulkan masalah serius. Sobirin mencatat, permukaan air dangkal menurun hingga 10 meter. Bahkan, di Dayeuhkolot, permukaan tanah menurun hingga 2 meter karena air bawah tanahnya habis disedot.


Menurut Sobirin, pada 1980, jumlah sumur bor di Bandung sekitar 500 lubang. Tahun 2000, jumlahnya meningkat menjadi ribuan. Sekarang jumlahnya diperkirakan meningkat dua kali lipat, karena jika ada yang meminta izin membuat dua sumur bor, realisasinya dia membuat tujuh sumur bor.


Sumur resapan


Dine mengingatkan, semestinya masyarakat turut memelihara air sehingga tidak terjadi krisis, salah satunya dengan membudayakan panen air pada musim hujan. Air hujan yang melimpah dapat ditampung di sumur resapan atau penampung lain. Air ini dapat diolah atau langsung digunakan sesuai dengan keperluannya. Jika budaya panen air sudah memasyarakat, air hujan tidak menjadi banjir, dan saat kemarau masyarakat tidak kekurangan air.

Secara terpisah, Kepala Bagian Humas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung Melianan mengatakan, pasokan air ke PDAM, terutama dari sumber mata air, memang menurun sekitar 5 liter per detik. Akan tetapi, penurunan ini tidak mengurangi pelayanan PDAM kepada masyarakat.


Selama ini PDAM baru bisa menghasilkan 2.500 liter air bersih per detik. Jumlah ini baru bisa mencukupi 65 persen dari kebutuhan 143.000 pelanggan. Selama musim kemarau ini PDAM Kota Bandung menyediakan air sebanyak 380 tangki. (MHF)

No comments: