Tuesday, August 21, 2007

AKIBAT HILANGNYA KEARIFAN LOKAL

Lingkungan Hidup
Kerusakan akibat Hilangnya Kearifan Lokal
KOMPAS, Jawa Barat, 22 Agustus 2007, MHF
Gambar: Sobirin 2007, dari www.faster.co.id, Bintang di Musim Hujan

"Kerusakan lingkungan cermin hilangnya kearifan lokal", kata anggota DPKLTS, Sobirin, dalam diskusi penyelamatan lingkungan, di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Bandung, Selasa (21/8/2007).

Bandung, KOMPAS- Kerusakan lingkungan di Tatar Sunda merupakan cermin hilangnya kearifan lokal. Masyarakat tidak lagi peka dengan tanda-tanda alam dan cenderung mencari keuntungan materi semata.

"Kerusakan lingkungan cermin hilangnya kearifan lokal yang dulu dipegang teguh oleh masyarakat," kata anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin, dalam diskusi penyelamatan lingkungan di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Bandung, Selasa (21/8).

Sobirin mengatakan, sebagian besar petani tidak lagi menggunakan Sukra Kala Saka Sunda dalam mengelola pertaniannya.

Cara ini dipakai orang Baduy untuk menandai masa-masa bercocok tanam. Misalnya, jika kidang ilang turun kungkang atau bintang kidang (bintang orion) menghilang dan matahari di selatan, akan datang belalang. Artinya, bila terlambat tanam, saat panen padi akan diserang hama.

Sementara bila kidang tidak tampak, berarti roh halus menjaga hutan untuk mengembalikan kesuburan tanah. Pada masa tersebut, petani dilarang menanam padi dan harus menunggu sampai enam bulan berikutnya.

Selama masa menunggu itu, petani memenuhi kebutuhannya dari padi yang ada di lumbung. Jika patuh dengan pedoman itu, hasil panen akan melimpah.
"Sekarang petani banyak mengandalkan pupuk kimia dan tidak memberi kesempatan kepada tanah untuk memulihkan kesuburannya," tuturnya.

Di sisi lain, lanjut Sobirin, terjadi kerusakan di subdaerah aliran sungai (sub-DAS) Citarum. Kondisi semua sub-DAS sangat memprihatinkan, gundul, dan beralih fungsi menjadi lahan pertanian atau permukiman.

Di bagian hulu sub-DAS, di batas utara wilayah Kota Bandung, terdapat banyak mata air. Pada tahun 2001 tercatat 77 titik mata air, yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Sebagian besar tidak lagi mengeluarkan air.

Semestinya, kata Sobirin, sub-DAS Citarum, termasuk Kawasan Bandung Utara, dibiarkan hijau. Jadi, fungsi ekologis lingkungan hidup tidak terganggu dan manusia dapat hidup harmonis dengan alam.

"Ini bukti leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak. Kalau hutan rusak, air hilang, manusia pun sengsara," ungkap Sobirin.

Kerusakan lingkungan di kawasan Bandung utara juga diutarakan Maman Suratman Iskandar dari Ki Sunda Gallery Art House. Di daerah Dago, ujarnya, hampir tidak ada lagi sawah. Semua bukit dan hutan berganti menjadi bangunan.

"Luas bangunan sudah mencapai 350 hektar. Ini sulit dihentikan, banyak 'orang kuat' di sana," katanya.

Menurut Iskandar, program Cikapundung Bersih dan sejenisnya hanya omong kosong. Sebab, air sungai sudah sangat kotor dan sungai tidak terpelihara lagi. "Masalah pokok bukan di sungai, tetapi di hulu," katanya. (MHF)

No comments: